Saturday, 23 May 2015

PURA PURA

Pura-pura merupakan bagian dari keseharian kita. Setiap orang pasti pernah berpura-pura. Entah itu pura-pura baik, pura-pura kaya, pura-pura bahagia, dsb. Pura-pura ini sebenarnya tidak baik ya, walaupun ada pura-pura untuk kebaikan tapi yang lebih baik adalah jadi orang jujur.

Tentang pura-pura, pura-pura ini merupakan bagian dari kehidupan keseharian kita. pernah gak Anda berpura-pura? setiap orang pasti pernah berpura-pura, tapi apakah orang yang berpura-pura itu bahagia? Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony." -Mahatma Gandhi. Menurut Gandhi, bahagia itu saat pikiran, perkataan, dan perbuatan kita berada dalam keselarasan. jadi bahagia itu apa yang Anda pikirkan = apa yang Anda katakan = apa yang Anda lakukan.

Kenapa seperti itu? karena kita menyatu dengan alam semesta. Orang yang berpura-pura berarti apa yang dia pikirkan tidak sama dengan apa yang dia lakukan. Tapi pada kenyataannya kita diharuskan untuk berpura-pura. Ketika kita berpura-pura kita tidak bisa merasa nyaman walaupun ada pura pura yang "baik". Misal, Anda sakit gigi tapi tidak perlu menunjukkan bahwa saat ini sedang sakit gigi. kemudian saya tanya Anda apa kabar anda? Anda jawab luar biasa sehat bahagia.

Di balik kepura-puraan selalu ada "kepentingan". Lalu dalam kondisi apa pura pura itu dilakukan dan dihindari? tentunya ada bebarapa hal yang mendasar Apakah kepentingan pribadi atau orang banyak, Saat "kepentingan pribadi" menjadi alasan kepura-puraan, itu pasti pura-pura yang buruk. Saat "kepentingan bersama" menjadi alasan kepura-puraan, itu masih bisa ditoleransi.

Mungkin gak sih kita hidup tanpa kepura puraan? Sosiolog Kanada Erving Goffman memperkenalkan pendekatan dramaturgi dalam sosiologi. Menurut Goffman, kita memiliki dua panggung: front stage dan back stage. Front stage adalah wilayah kita yang bisa diakses oleh orang lain, sedangkan Back stage adalah tempat kita beristirahat dari interaksi sosial. Saat front stage dan back stage kita sama, itulah kebahagiaan sebagaimana yang didefinisikan Gandhi.

Yang menarik adalah orang selalu ingin menampilkan dirinya yang terbaik di Front Stage karena ini berkaitan dengan pencitraan tapi tidak ingin melakukan effort di Back Stage sehingga di dalam biasa-biasa saja. karena
persoalannya yang dibelakang itu tidak selalu baik.

Lalu adakah profesi-profesi yang menuntut kita untuk pura pura? Satu-satunya profesi di dunia yang membolehkan kita berpura-pura hanyalah aktor :) sisanya mestinya tidak pura-pura, menampilkan diri apa adanya.

Expression given adalah ketika kita harus pura-pura. sementara expression given off adalah yang tidak kita sadari dilihat orang lain. Setiap orang itu punya radar yang bisa mendeteksi ketidakjujuran kepura-puraan. Kita gak perlu keterampilan khusus untuk mendeteksi kepura-puraan, karena kita sudah ditanamkan di dalam diri kita oleh Tuhan.

Kalau kita nggak suka sama orang lain apakah baiknya kita tunjukan ke orang tersebut atau kita pura-pura suka di depannya? Ada tipe orang yang Genuine adalah orang yang asli yaitu saat kita tidak suka dgn seseorang, dan kita menunjukkan ketidaksukaan kita, maka kita termasuk tipe orang yang genuine, Apakah ini baik? belum tentu, karena orang yang baik adalah seharusnya kita menyukai seseorang karena tugas kita adalah mencintai orang, menyayangi dan mengasihi orang lain. tapi orang yang genuine akan meningkatkan trust (kepercayaan) dari orang lain karena keasliannya.

Sedangkan Orang yang tidak genuine, akan menutupi ketidaksukaannya kepada orang lain di hadapannya. Sayangnya, orang2 di sekitarnya akan menangkap "ketidak-genuine-an" tersebut dan menurunkan level trust-nya, Orang yang genuine tentu lebih baik daripada mereka yang tidak genuine. Tapi, bersikap genuine saja tidak cukup. Tugas kita di dunia ini adalah menebarkan cinta/kasih kepada sesama. Kita harus mengubah ketidaksukaan menjadi biasa saja atau bahkan menjadi mencintai

Kalau apa yang kita lakukan tidak sama dengan apa yang kita pikirkan kita tidak mungkin bisa bahagia. walaupun itu untuk kebaikan orang lain tapi ini tidak happy. jadi tidak bisa.

Sejak kapan kita berpura-pura? Anak kecil tidak pernah berpura-pura, coba saja perhatikan anak kecil capek nangis, gak suka marah. lapar nangis. Orang dewasalah yang mengajarkan anak kecil untuk berpura-pura. Misal Nasehat yang menjadi pembelajaran oleh anak itu, dia marah tapi tetap bisa senyum pada temannya karena guru bilang nak kalau kamu marah kamu tidak di sukai temannya. Kesalahannya, orang dewasa mengubah "front stage" si anak, bukan "back stage"-nya. Perubahan di "front stage" tanpa diiringi perubahan "back stage" inilah yang melahirkan kepura-puraan .

Di dunia pencitraan yang serba instan seperti sekarang ini, ada tuntutan untuk menyenangkan orang lain agar diterima lingkungan dan mengubah front stage jauh lebih mudah, murah, dan cepat, tapi masalahnya yang terjadi adalah perubahan bukan di back stage tapi di front stage. tetapi menjadi orang baik itu sulit, butuh waktu butuh berdarah-darah. yang paling cepat diubah itu front stage bukan back stage karena look good, karena memang orang yang berhasil memang orang yang kelihatan bagus. Nah itulah sebabnya banyak orang yang memilih jalan pintas yang hanya memilih front stage nya saja. tuntutan akhirnya dia merasa terus-terus dan menjadi diri kita yang sekarang ini.

Menjadi baik itu bukan masalah orang lain, menjadi orang baik itu adalah masalah kita. Tapi di sana kita akan menampilkan diri kita yang asli, berpura-pura tidak mungkin dilakukan di ruang privat karena cuma ada kita dan Tuhan. Sebetulnya yang harus kita lakukan adalah belajar teknik komunikasi , orang yang tidak belajar teknik komunikasi dia akan kasar, tapi belum tentu orang yang kasar ini tidak baik. tetapi alangkah baiknya kalau dia meningkatkan kemampuan agar dia menjadi lebih baik.

Dunia itu dibagi menjadi tiga yaitu benar, katakan yang baik, dan katakan yang lebih indah lagi. Karena seringkali kalau kita ngomong orang itu mengartikannya bisa beda-beda. Semua orang harus belajar mengungkapkan apa yang kita pikirkan tapi dengan kata-kata yang tidak menyakiti orang lain menyampaikan kebenaran itu harus dengan cara yang baik, tapi kadang lebih bagus benar tapi kasar, daripada orang yang halus sopan santun tapi nggak benar.

Kesimpulan :
Dalam bisnis memang kadang kita harus pura-pura.,pura pura senang, misal customer kita menceritakan sesuatu yang menurut kita biasa-biasa saja dan kita harus berpura-pura kagum dan mengerti. boleh gak kita begitu? boleh tetapi anda punya PR (pekerjaan rumah). PRnya adalah mencari apa yang belum kita ketahui googling misalnya, karena setiap kepura-pura an itu tidak menghasilkan kebahagiaan. Anda harus memperbaiki diri anda ketika Anda pura-pura untuk melakukan sesuatu, karena kalau Anda berpura-pura pasti ada yang salah dalam diri anda. Berpura-pura itu membodohi diri sendiri, hiddup ini selalu dibagi menjadi dua ada front stage dimana kita ingin dilihat seperti apa, dan kedua adalah back stage tempat kita menjadi diri kita apa adanya, dan ketika hanya Anda dan Tuhan yang disana kita tidak bisa pura-pura.

No comments:

Post a Comment