Monday, 15 June 2015

Mana yang Lebih Baik: Bicara atau Diam?

Berkomunikasi itu tidak hanya bicara, bahkan diam pun juga komunikasi, diampun bisa lebih powerfull dari pada bicara. Misalnya, kita diam saat marah. Diamnya kita justru lebih powerful daripada berbicara.

Nah,komunikasi itu apa?? benar, berbicara dengan efektif, ketika Anda sedang marah akan lebih terasa kalau kita diam. jadi diam itu memberi tahu seseorang bahwa dia melakukan yang salah hanya dengan diam, justru ketika kita marah mestinya kita diam. nanti ngomongnya kapan? kalau udah nggak marah, sehingga pembicaraan kita menjadi sesuatu yang berkualitas, salahnya adalah ketika seseorang marah dia berbicara, ketika selesai marah dia diam, mestinya dibalik. "Being silent is a great way to let someone know they did something wrong".

Bicara itu baik kalau dengan bicara itu kita sedang meningkatkan nilai kita, diam juga baik kalau dengan diam itu meningkatka nilai kita, yang dinilai sebenarnya adalah valuenya. kelemahan manusia ada dua dalam komunikasi dia diam ketika harus berbicara itu namnya orang yang takut pengecut atau tidak peduli, yang kedua orang yang bicara ketika harus diam ini namanya orang bodoh. "Two things indicate weakness. One to be silent, when it is proper time to speak. Second to speak, when it is proper time to be silent." --Ritu Ghatourey

Kalau bicara itu membuat orang lain marah atau kerusakan maka lebih baik diem, bicara akhirnya membuat salah pengertian lebih baik diem, rumusnya adalah kalau sudah tidak dapat bicara yang baik lebih baik diem.

Dalam meeting kapan kita bicara?, saat kita tau solusi dalam bicara, beda lagi misal pada saat orang lain banyak bicara Anda diem mungkin akan dianggap bodoh karena diam. resiko dari diam ini mungkin mengira orang ini bodoh. tapi ini masih lebih baik dari pada bicara tapi lebih kelihatan bodoh. kalau diem orang masih mikir ini orang sakit gigi atau mikir?, dari pada bicara tapi ketahuan bodoh. Risiko diam adalah dianggap orang lain bodoh. Tapi, lebih baik diam dan dianggap bodoh, daripada bicara justru memperlihatkan kebodohan kita.

Rumusnya Anda harus 2x mendengar untuk 1x bicara, Tuhan itu sudah memberikan inspirasi pada kita dengan tubuh kita Tuhan memberikan 2 telinga dan satu mulut, supaya pembicaraan kita berkualitas, jangan 1x dengar lalu di bicarain, kita harus check dan ricek. anda ngomong 5 menit Anda harus persiapan 10menit. saya bicara sejam harus persiapan 2 jam.

Dan yang menarik ketika kita mendengar itu mengandung unsur huruf yang sama dengan silent listent. listen yang benar adalah silent. Dalam bahasa Inggris, mendengar adalah L.I.S.T.E.N. yang memiliki unsur huruf yang sama dengan S.I.L.E.N.T. Saat L.I.S.T.E.N kita harus S.I.L.E.N.T

Tuhan memberi tanda-tanda tapi kadang kita tidak menangkap tanda-tanda itu. jadi meeteng harus ada persiapan , meeting nya satu jam harus persiapan 2 jam supaya kita punya bahan, kalau nggak maka kredibilitas kita akan turun karena kita tidak tahu apa-apa, jadi diam lebih baik kalau kita tidak tahu apa-apa. jadi lebih baik diamnya jangan saat meeting, tapi sebelum meeting pada saat kita mencari bahan, sehingga kita kredibilitas meningkat.

Nah dalam hal lebih baik bicara atau diam ini, kalau orang udah tau kapan harus bicara dan harus diam, kalau kita melihat dari kesukaan kita . diam itu diam kalau ada sesuatu yang salah di depan kita ketika ada kezaliman di depan kita, kalau kita diam berarti kita setuju kita merestui. contoh kalau ada anak buah kita telat tidak semangat kalau kita diam pura-pura tidak tahu maka kita merestui dan setuju. misal anak kita tidak belajar, bolos, kalau kita diem berarti kita setuju, maka yang benar adalah jangan didiamkan harus bicara.

Kita tidak boleh menuruti "kesukaan" kita untuk bicara atau dia. Meski Anda seorang pendiam, namun saat terjadi kezhaliman di depan Anda, Anda harus bicara Sebab diamnya Anda bisa dimaknai sebagai persetujuan, perestuan terhadap kezhalima. Sesuatu yang datang dari hati pasti sampainya akan ke hati juga.

Kalau bicara bisa meningkatkan value kita, maka bicaralah. Demikian pula sebaliknya, kalau diam bisa meningkatkan value kita, maka diamlah. Kalau kita bicara akan membuat orang marah, membuat kerusakan, dll, maka lebih baik dia. Rumusnya: Bicaralah yang baik. Jika tidak ada hal yang baik yang bisa dibicarakan, lebih baik diam.

Sebaliknya orang yang sangat suka dan nyaman bicara dia bicara terus pada saat seharusnya orang diam itu akan dianggap orang yang tidak tahu adab, karena akan menurunkan kredibilitas karena tidak mengenal situasi.

Bicara itu bukan karena sikon tapi karena ada sesuatu yang dibicarakan, orang yang tidak berani bicara atau bicara karena sikon adalah orang yang lemah. Orang yang kuat yang punya kekuasaan punya power adalah orang yang mengubah dengan tangan ketika ada kezaliman, kalau tidak bisa dengan kekuatan makan kita bisa dengan bicara. cuma cara bicaranya bagaimana supaya feelingnya sampai pada orang lain.

Ketika menyaksikan kezhaliman, kita bisa mengubahnya dengan tangan (power). Jika tidak bisa, kita harus mengubahnya dengan lisan (bicara). Jika tidak bisa juga, ubahlah dengan hati (diam). Dan diam itu (mengubah dengan hati) adalah kondisi yang paling lemah. Diam ketika menyaksikan sebuah kezhaliman menunjukkan bahwa diri kita lemah.

Supaya pembicaraan berkualitas nomor satu listen. kita diam biarkan dia berbicara, terlalu banyak bicara pada orang yang lebih tua dari kita. Dengarkan ketika dia selesai bicara, kebutuhan psikologinya dia untuk bicara sudah terpenuhi sampai dia puas maka saat nya kita bicara maka dia akan mendengarkan. ibaratnya orang tersebut sudah mendapatkan udara, karena yang dibutuhkan adalah udara, udara segar. dengarkan dulu.

Bahkan ketika kita berkomunikasi di depan publik yaitu dengan pause. kita harus diem, dan akan memberikan nilai tambah pada sesuatu yang kita berikan. "The most precious things in speech are pauses." -Ralph Richardso .

Jadi sebetulnya kemampuan komunikasi yang tertinggi adalah bisa bicara dan bisa diam untuk berkomunikasi pada siapapun, orang yang sudah marah biasanya bicara, dan itulah yang namanya ngomel. dan diam itu memberikan dampak pada orang yang didiamkan (menyadarkan orang lain bahwa ada yang salah) dan memberikan kesempatan pada kita untuk menenangkan diri.

Yang namanya anger dan danger itu beda tipis. kata kata itu diciptakan ada maknanya ada maksudnya,

Diam itu saja sudah gesture yang powerfull, yang lainnya cuma pendukung tatapan mata dll. kita sering kali melakukan kesalahan membuang kata-kata yang begitu berharga dan mahal, kata-kata itu mahal bahkan saya dibayar mahal untuk kata-kata saya, saya tidak akan memboros-boroskan energi dan bicara saya untuk orang yang dengan didiamkan saja itu sudah ngerti. "Wise men speak because they have something to say; Fools because they have to say something" -Plato

Tuhan itu berkomunikasi dalam diam, coba lihat keluar jendela pohon , tumbuhan , langit.

Ketika semua orang sudah banyak yang bicara mengenai topik tertentu maka diam lebih baik, karena diam itu memberi value karena semua orang sudah membicarakan itu dan menjadi bising. contohnya, Ketika istri saya sudah marah pada anak saya tidak perlu bicara lagi pada anak dan cuma bilang  nak itu salah , itu saja sudah cukup.

Biasanya salah satu pembicara yang baik bukan penulis yang baik, tapi ada juga pembicara baik sekaligus penulis yang baik, jadi segala sesuatu bisa di pelajari don't worry.

Orang yang bijak itu berbicara karena ada sesuatu yang harus dikatakan. beda kalau orang mengatakan kalau tidak tahu ngomong apa , nggak punya apa yang harus dikatakan, ketika nggak tau ngomong apa. dan ketika kita diam akhirnya suasana menjadi tidak enak.

Diam itu sesungguhnya menunjukkan anda punya kedekatan. Saat berjalan bersama dengan orang yang dekat, dan kita diam, kita tetap merasa nyama.Namun, jika belum ada kedekatan, diam bersama orang dalam perjalanan, akan menyiksa kita. misal kita pergi kesebuah tempat bersama seseorang di dalam mobil, anda diam tetapi merasa comfortable, orang yang jauh akan tidak nyaman kalau tidak ada bicara, dan akhirnya kalau sudah tidak ada yang dibicarakan maka akan masih bicara sesuatu yang tidak baik. Ketika diam sunyi senyap akan merasa tidak enak, tidak nyaman karena hubungan masih jauh. karena topik pembicaraan sudah tidak ada. karena diam itu menyiksa ketika belum dekat.

Yang menarik orang yang biasa diam ketika dia berbicara sesungguhnya orang memperhatikan. mestinya hal yang dibicarakan ini sesuatu yang penting, ada orang di zalimi di depan mata kita, ini sebuah alarm bahwa kita harus melakukan sesuatu. Kita suka melihat tokoh-tokoh politik kita bicara maka berisik, justru ada tokoh yang diam saja dan orang lain menunggu, dan pada saat dia ngomong akan powerfull karena ada value yang dibawa.

Kesimpulan :
Anda bicara ataupun diam, Anda tetap mengirimkan pesan. Rumusnya: Bicaralah yang baik. Jika tidak ada hal yang baik yang bisa dibicarakan, lebih baik diam.

No comments:

Post a Comment