Friday, 5 June 2015

Trading Places

Bertukar tempat adalah melihat orang lain, dan memproyeksikan pengalaman orang lain ke dalam pengalaman kita. Seandainya kita semua bisa bertukar tempat (trading places), dunia ini akan menjadi indah sekali. Sebaagi contoh , ini ada seorang wanita yang rupanya sering disakiti oleh pasangannya ya,. kemudian ia berandai andai. jika saya jadi pria saya harus memperhatikan wanita seperti apa?, nah bayangkan kalau kita semua bisa melakukan ini bisa bertukar tempat bukankah dunia akan menjadi indah, dan masuk ke dunianya orang lain.

Ada posisi yang bisa dan tidak bisa kita tukar. Pada posisi yang tidak bisa kita tukar selalu akan ada bias, karena kita tidak bisa betul-betul merasakan perasaan orang lain, karena ada faktor tertentu untuk merasakan orang lain, misal saya pria dan tidak bisa memahami jadi wanita sepenuhnya itu seperti apa, nggak akan pernah bisa, ada posisi posisi dalam hidup kita yang tidak akan pernah bisa, tapi ada posisi yang sebenarnya bisa, misal orang tua terhadap anak. anak belum bisa trading places dengan posisi orang tua, nanti saat kita menjadi orang tua kita bisa merasakan seorang anak kecil bagaimana menjadi anak kecil karena kita pernah kecil juga.

Jadi ada posisi-posisi yang tidak akan pernah kita tahu. tapi ada posisi yang belum kita tahu , ketika kita menjadi anak terhadap orang tua. contoh lain saya sebagai nara sumber anda pembaca artikel, setelah saya selesai menulis artikel ini saya bisa memposisikan diri sebagai pembaca sehingga saya bisa meneliti, oh ini lho yang diinginkan oleh pembaca, oh kalau topiknya seperti ini nggak menarik

Di dunia ini ada posisi-posisi untuk bertukar tempat secara langsung, ada trading places yang bisa kita lakukan saat ini juga. Dalam relasi penjual dan pembeli, misalnya. Alangkah indahnya jika seorang penjual bisa memosisikan dirinya sebagai pembeli, dan sebaliknya, Alangkah indahnya jika seorang penjual bisa memosisikan dirinya sebagai pembeli, dan sebaliknya, Transaksi jual-beli tidak hanya akan berlangsung mulus, tetapi juga indah karena adanya saling pengertian. Ketika ada saling pengertian dalam relasi interpersonal, maka akan muncul kebahagiaan di sana. atasan bawahan juga, saya menjadi atasan pada saat bersamaan saya juga bisa menjadi bawahan juga, pembeli sama penjual ini khan berbeda, jika saya menjual mobil saya pun dapat menjadi pembeli mobil. betapa tidak enaknya kalau orang membeli mobil dari orang lain gak lama kemudian jadi rusak.

Trading places ini adalah kemampuan terbesar yang diberi sama Tuhan untuk lebih bahagia, semakin kita dapat menjadi trading places maka kita akan semakin Bahagia. Ketika orang melihat hanya dari kacamata sendiri disitulah masalah akan terjadi dan inilah yang membuat kekacauan di dunia ini.

Jadi sebagai contoh juga kita harus memahami anak-anak kita. Saat seorang anak dinasihati orangtuanya, dia mungkin tidak paham mengapa orangtuanya memperlakukannya begitu. Namun, saat sang anak kemudian menjadi orangtua, dia akan paham betul mengapa dulu orangtuanya berlaku begitu. orang tua tidak harus selalu menyalahkan anak, tidak boleh mengatakan "mamah dulu waktu kecil tidak begitu kok", ini tidak trading places namanya, trading places adalah masuk kedunia orang lain, kalau saya saat ini masuk kedunia anak saya, misal anak saya "pah belikan handphone donk", kalau tidak trading places maka kita akan bilang "papah waktu kecil tidak pakai handphone kok gpp", tidak harus setuju tapi mengerti. semua orang di dunia ini butuh dimengerti , setuju atau tidak itu nomor dua. Andaikata orangtua dan anak bisa melakukan trading places saat itu juga, tidak akan ada kesalahpahaman. Tapi seorang anak membutuhkan waktu berpuluh tahun untuk bisa merasakan posisi sebagai orangtua.

Jadi gini kalau saya kasih pilihan begini, saya mengerti yang Anda alami tapi saya setuju, atau saya mengerti tapi nggak setuju, pilih mana??? Jika hanya ada 2 pilihan: "dimengerti" dan "disetujui", semua orang lebih suka "dimengerti". karena kalau orang yang tidak mengerti, cerita nya sudah panjang lebar, dan dia cuma bilang "udah udah udah saya setuju" begitu, ternyata nggak enak banget dan betapa sakitnya diperlakukan seperti itu. Dengan trading places kita bisa "mengerti" orang lain meski belum tentu "menyetujui". Semua orang lebih suka "dimengerti-meski-tidak-disetujui" daripada "disetujui-tapi-tidak dimengerti"

contoh lagi seorang suami pulang kerumah tau-tau dia marah sama istri dan anaknya , istrinya mendengar karena suaminya tertekan sama atasan difitnah sana sini, istrinya mengerti. saya mengerti kenapa kamu marah tapi saya tidak setuju dengan sikap seperti itu. Jadi bertukar tempat itu pada situasi seperti apa? pada setiap situasi, bukan hanya pada situasi tertentu saja.

Rumus trading places: kita harus mengerti dulu, baru menuntut untuk dimengerti. Saya harus memahami apakah sebagai penulis atau sebagai pembaca, Kadang orangtua "terjebak" seolah sudah melakukan "trading places" dengan anaknya. Padahal, pengalaman-anak-zaman-dulu berbeda dengan pengalaman-anak-zaman-sekarang. nah kalau orang tua belum apa-apa mengatakan, nak kamu jangan posting facebook dan sebagainya, nah anak-anak belum mengerti apa yang dimaksud. anak dianggap nggak ngerti, anak merasa sudah paham gitu, jangan ngomong seperti itu. tetapi apa yang dialami oleh anak belum tentu , papa lebih ngerti dari kamu, kamu ngereti, papa juga ngerti, itu harus ditanya dulu, kita masuk kedunianya , menyelam ke dunianya, dia akan lebih mau mendengar karena dia mengerti. ketika kita trading places maka akan tercipta connection, dan ketika kita terhubung sama orang lain maka akan selaras dan menimbulkan cinta kasih dan ini yang disebut happiness.


Tantangan terberat untuk trading places adalah saat kita berada dalam masalah. Setiap waktu , ada saat-saat tertentu kita tidak dapat trading places, ketika kita punya masalah yang membebani kita, orang yang sakit gigi itu contohnya, masalah terbesar di dunia ini adalah sakit gigi. susah memahami orang lain ketika punya masalah. kita susah memahami bawahan kita ketika kita punya masalah sendiri. seringkali pada saat-saat tertentu kita tidak sensitif terhadap masalah orang lain, ketika kita sedang tidak bahagia. dan seringkali ketika orang punya masalah dia merasa orang paling merana dan malang di dunia.

Nah sebetulnya bukan itu, bahkan bisa dilakukan ketika kita punya masalah, kita harus keluar dari diri kita, menanggalkan masalah kita. contoh seorang anak di sekolah , seorang anak orang tua nya kaya, dan disuruh bercerita tentang orang miskin. dan anak-anak itu bercerita " orang tua saya sangat miskin, pembantu saya miskin, sopir saya miskin". masa miskin punya pembantu punya sopir artinya apa! dia tidak bisa trading places, dia khan bisa menceritakan. dia tidak betul-betul keluar dari dalam dirinya

Trading places logikanya adalah pakai kacamata orang, yang pertama kita lakukan adalah lepas kacamata sendiri, melakukan pengosongan diri, kosongkan diri Anda, pake paradigma orang awam, ini berlaku dalam semua sector termasuk bisnis. tapi dia merasa sudah trading places. Misal kita sebagai orang radio kita bikin program segala macem pada saat pagi-pagi, tau-tau pendengar kita pagi-pagi gini enaknya muter musik, ini berlaku bukan hanya hubungan kita sebagai manusia tetapi juga untuk hubungan bisnis.

Berandai-andai itu bukan selalu baik, berandai-andai melihatnya masih kepentingan kita. misal kita menjadi istrinya presiden amerika serikat, bukan itu , itu namanya angan-angan, impian, trading places adalah berusaha memahami lawan bicara kita. feel connect, Saat semua orang feel connected, maka terciptalah kasih di antara mereka. Tugas kita adalah menciptakan connection sebanyak-banyaknya di dunia ini. Saat itulah ada kebahagiaan, bisnis juga akan lancar jika kita memahami customer kita. Anda harus posisikan diri anda sebagai pendengar, kita harus sering-sering juga menjadi pendengar, dengarkan radio , jadi saya mendengarkan orang lain, karena saya mendengar kok cuma begini-begini saja sih. jadi saya bisa memperbaiki diri.

Analogi trading places adalah melihat dari kacamata orang lain, memakai kacamata orang lain, masuk ke dunia orang lain, menghayati prasaanya, Sebelum memakai kacamata orang lain, kita harus menanggalkan kacamata kita. karena ada orang mengerti tapi tidak merasakan, trading places adalah mengerti dan merasakan(tau feelingnya), tapi ada orang yang mengerti tapi tidak merasakan itu namanya analisa, kecerdasan emosinya agak kurang agak tumpul. kalau saya hanya mengerti ceritanya dan tidak merasakan itu namanya analisa, merasakan tapi tidak mengerti itu namanya simpati. dan simpati itu dangkal, kalau trading places itu sudah masuk namanya empati. yang namanya trading places itu mengerti mau mendengarkan ceritanya dan merasakan.

Trading places akan membuat hubungan kita dengan orang lain menjadi harmonis. Tugas kita di dunia ini meningkatkan prosentasenya. sehingga semakin hari semakin connect berarti apa , saya sudah cerdas secara emosi. kira kira 75% itu sudah bagus, karena tidak mungkin orang-orang itu bener bener bisa merasakan.

No comments:

Post a Comment