Saturday, 12 September 2015

Jodoh

Segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan berjodoh, Hanya satu yang tidak berjodoh yaiut Tuhan karena Tuhan sudah sempurna. maka Dia tidak membutuhkan jodoh. Jodoh membuktikan bahwa kita (makhluk-Nya) tidak sempurna, sehingga Saat kita sudah menemukan jodoh, kita bisa dikatakan sudah sempurna. Bukankah saat kita sudah menikah (menemukan jodoh), dikatakan bahwa kita sudah menyempurnakan agama

Dalam artikel kali kini kita akan membahas jodoh di semua aspek kehidupan kita, bukan hanya dalam konteks pernikahan tapi juga dalam karir, tempat tinggal dsb. karena Jodoh merupakan hukum alam, yang aturannya sudah diciptakan oleh Tuhan untuk kita.

Lalu bagaimana untuk mendapatkan jodoh?, Untuk mendapatkan jodoh yang baik, kita harus menjadi baik terlebih dahulu. Tapi masalahnya Salah satu rintangan terbesar dalam mendapatkan jodoh adalah ketidaktahuan kita akan nilai diri kita sendiri. Kita cenderung overvalue terhadap diri kita sehingga kita mencari jodoh dengan skor yang sama

Kesalahpahaman kebanyakan orang adalah menganggap jodoh itu abadi. Padahal, jodoh itu adalah sebuah konsep yang dinamis, bukan statis. Selama terjadi keseimbangan, kesetaraan nilai, jodoh akan tetap bertahan. Namun, saat kesetaraan nilai tersebut terganggu, maka jodoh pun selesai.

Ketidakseimbangan akan memicu konflik. Konflik adalah fase mencari keseimbangan baru. Jika keseimbangan baru itu tidak tercapai oleh kedua belah pihak, maka jodoh pun usai. Dalam karier misalnya, perusahaan dan karyawan harus terus menjaga keseimbangan nilai. Jika nilai perusahaan dan nilai karyawan berubah, maka yang terjadi selanjutnya adalah perpisahan

Segala sesuatu ada tanda-tandanya, termasuk jodoh juga memiliki tanda-tanda. Sayangnya, kita sering melewatkan tanda-tanda tersebut karena gangguan noise. Salah satu tanda-tanda jodoh adalah saling melengkapi.

Saat dua orang menikah, saat itu mereka berjodoh. Namun dalam perjalanan selanjutnya, bisa terjadi jodoh itu berakhir akibat terganggunya keseimbangan.

Teori social exchange dari Peter Blau menggambarkan konsep jodoh ini dengan sangat baik. Teori social exchange memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi jual-beli

Jodoh berbeda dengan calling. Calling itu sudah ditentukan oleh Tuhan untuk kita. Sementara jodoh adalah aturan mainnya. Orang dengan calling yang sama bisa memilih "jodoh" yang berbed. Karena Jodoh itu pilhan, sementara calling itu sudah tertanam dalam diri tiap individu 

Bagaimana agar jodoh itu langgeng? Jawabannya, setiap orang itu tumbuh (growing), dan pasangannya pun harus ikut tumbuh. Tumbuh bersama (growing together) adalah rumus perjodohan yang langgeng. Jodoh adalah pilihan. Karena itu pilihan, maka kita harus bertanggung jawab. Salah satu bentuk tanggung jawab adalah memelihara jodoh yang sudah kita pilih untuk tumbuh bersama

Untuk mendapatkan jodoh yang baik, kita harus menjadi orang baik terlebih dahulu. If you wanna be happy, be happy now!  

No comments:

Post a Comment