Saturday, 31 October 2015

Awal musim penghujan di Kudus

Setelah musim kemarau pasti musim penghujan, di tempat saya sendiri kemarau tahun ini hampir mengakibatkan sumur saya kering namun belum sampai kering dan masih dapat di sedot dengan pompa air walaupun kadang harus menunggu sampai beberapa jam dulu untuk dapat disedot airnya kembali menunggu air datang lagi, dan kadang karena pompa airnya terlalu lama untuk mengangkat air (bahasa jawanya kriwik kriwik) sehingga saya lebih suka untuk menggunakan timba, kebetulan sumur saya masih ada timba atau timbo saya menyebutnya.

Untuk keperluan rumah tangga, masak, mandi, mencuci dll sumur di rumah masih mencukupi namun di beberapa tetangga saya ada juga yang sudah tidak dapat di ambil lagi airnya padahal diantaranya ada yang rumahnya deket sungai namun sayang sungai tersebut sekarang pada dasar sungai di buat plester pakai semen sehingga air tidak dapat meresap ke tanah dan langsung mengalir ke hilir. Entah apa tujuannya sampai-sampai sungai di plester begitu, saya juga kurang begitu paham karena ini program pemerintah.

Halaman rumah masih berupa hamparan tanah jadi terlihat tanahnya kering sehingga debunya beterbangan kalau ada angin kencang. Bunga-bunga tampak layu hampir mati karena kurang siraman air dan sayapun tidak dapat berbuat banyak karena saya harus lebih berhemat untuk keperluan yang lebih  penting.

Tepat tadi malam langit di Kudus tampak mendung, dan benar saja akhirnya kudus di guyur hujan walaupun di tempat saya masih berupa gerimis-gerimis karena yang diguyur hujan sebagian besar Kudus bagian selatan sedangkan saya berada di lereng pegunungan Muria tapi kehadiran hujan tersebut sudah membuat udara di tempat saya berubah menjadi sejuk. Hujan tersebut mengakibatkan listrik di tempat saya padam sampai beberapa jam sehingga saya tidak dapat menyalakan peralatan elektronik seperti televisi, laptop, bahkan beberapa smartphone saya kehabisan daya.

Selain itu di ada beberapa lokasi talang rumah mengalami kebocoran karena talang tersebut terbuat dari bahan karet jadi mudah robek untuk beberapa waktu pemakaian apalagi saya sering naik ke genteng ketika mengambil buah mangga yang terletak di atas genteng sehingga kadang kala menginjak bagian talang tersebut yang secara tidak sengaja membuatnya robek.

Karena talang yang robek tersebut mengakibatkan kebocoran yang lumayan sehingga pagi tadi saya menyempatkan diri untuk membeli talang ke Toko Bahan Bangunan, dan berdasar pengalaman tahun-tahun kemaren yang menggunakan talang karet tapi sering robek sampai saya lihat tadi di atap talangnya sudah rangkap tiga sehingga saya memutuskan untuk menggantinya dengan yang berbahan seng dengan harapan dapat bertahan lebih lama untuk beberapa tahun ke depan.

Untuk membeli talang ukurannya pun beragam dengan beragam ketebalan serta beragam harga, tapi saya memilih yang harga sedengan tidak terlalu murah dan tidak terlalu mahal dengan ukuran lebar 75cm supaya nanti air yang tertampung di talang tidak mbleber ke tepi talang sehingga air malah mengalir ke bawah talang.

Oh ya hampir lupa, dengan datangnya hujan pasti rumput-rumput banyak yang tumbuh sehingga saya dapat mengambil rumput lagi untuk keperluan pakan kelinci karena sepanjang musim kemarau tahun ini hampir tiap hari kelinci-kelinci saya tersebut dikasih makan dengan kangkung yang mungkin sudah membuatnya bosan. Dan sepertinya ada salah satu kelinci yang mau beranak karena ada salah satu indukan yang suka nyerang kalau saya kasih makan. Demikian tulisan yang singkat. semoga bermanffaat.

No comments:

Post a Comment