Monday, 8 February 2016

Apapun yang orang katakan . Kendali ada ditangan Anda

terkait dengan angan-angan saya yang saat ini masih dalam progress, banyak orang yang tidak mengerti apa yang saya lakukan, bahkan saya jelaskan pun percuma, karena jelas dibutuhkan pengetahuan yang luas untuk dapat mengerti penjelasan tentang project yang saya kerjakan, sebaliknya lingkungan kebanyakan berpendidikan rendah, apalagi ini terkait dengan dunia internet.

Tidak jarang saya malah di rendahkan, di berikan komentar yang membuat putus asa, diberikan saran dengan pandangan sempit misal, lebih baik jualan cendol saja, bahkan memberikan penjelasan bahwa internet itu menipu, padahal dia juga menggunakan internet tidak pernah sama sekali, mana mungkin dia dapat memberikan nasehat tentang internet.

Seringkali apa yang saya kerjakan dianggap sebelah mata, bahkan pekerjaan saya dianggap tidak bekerja dan mereka tidak menganggap bahwa waktu yang saya investasikan setiap hari adalah juga layaknya orang bekerja dengan pekerjaan tertentu, dan tidak jarang sering ada interferensi disaat sedang bekerja, yaitu dengan memberikan perintah-perintah yang tidak perlu.

Memang lebih baik memberikan penjelasan kepada 10 orang yang berilmu daripada 1 orang yang tidak berilmu, karena sama saja Anda ngomong dengan tembok, apapun penjelasan yang Anda berikan pasti mental.

Namun berbagai rintangan tersebut tidak lantas membuat proses terhenti, dan malah semakin semangat untuk menggapai apa yang diinginkan, karena saya yakin bahwa memang benar semakin tinggi suatu pohon maka kadangkala juga semakin kencang terpaan angin yang datang. Jadi yang terpenting adalah memperkuat akar agar tidak mudah tumbang dikala badai datang.

Demikian, ulasan mengenai suka duka menjadi seorang freelancer yang memang dianggap bukan pekerjaan bagi sebagian orang. Semoga bermafaat, dan teruslah berusaha untuk mencapai apa yang Anda cita-citakan, buktikan kepada lingkungan bahwa apa yang Anda kerjakan adalah sesuatu yang bermanfaat dan memberikan dampak positif bagi pribadi maupun sosial.

No comments:

Post a Comment