Sunday, 14 February 2016

Keserakahan adalah modal awal kehancuran

Sesuatu yang terjadi di dunia ini haruslah sesuai dengan ukuran dan kadarnya masing-masing, karena jika terlalu sedikit itu tidak baik terlalu banyak juga tidak baik, yang baik adalah cukup, apa-apa cukup, karena seperti yang kita tahu bahwa sesuatu yang berlebihan  itu tidak baik.

Sebagai contoh ketika Anda lapar tentu Anda ingin makan dengan banyak, namun ketika Anda makan terlalu banyak hal ini justru dapat menimbulkan sesutu yang tidak Anda harapkan karena kapasitas dari lambung yang Anda miliki tidak di desain untuk menampung kapasitas makanan yang berlebihan sehingga mungkin malah akan mengganggu kinerja dari lambung itu sendiri.

Oleh karena itu ini kisah saya sendiri, saya pernah membuat sebuah website dengan besar-besaran,karena saya melihat potensi yang ada di depan namun saya belum cukup tangguh untuk menghadapi besarnya tanggung jawab yang harus di pikul, sehingga bukan untung yang didapat malah kerugian besar yang didapat.

Hal ini tentu saya bagikan supaya menjadi pelajaran bagi saudara-saudara agar tidak terjebak dalam keserakahan dan menimbang segala sesuatu nya dengan bijak sesuai ukurannya masing-masing.

 Selain itu orang  yang serakah juga tentu biasanya akan rela untuk mengorbankan segala sesuatu yang harusnya menyeimbangkan kehidupan malah mereka tinggalkan sehingga keseimbangan yang seharusnya didapat menjadi miring dan akhirnya jatuh terguling karena berat sebelah.

Ini dapat saya contohkan kepada orang  yang bekerja keras untuk mendapatkan dunia, namun tidak memperhatikan kesehatannya serta tidak memperhatikan jadwal tidur, jadwal makan , jadwal olahraga sehingga kimia yang ada di dalam tubuh menjadi tidak seimbang dan menimbulkan kacaunya fungsi-fungsi organ yang ada di dalam tubuh.

Tidak sampai disitu kalau hal ini terjadi pada ekosistem yang ada di dunia bukan berarti bahwa dunia ini akan hancur oleh karena ulah tangan manusia yang serakah. Dan akhirnya mari kita menjaga alam ini agar tetap selaras agar tercipta kehidupan yang damai dan sentosa.

No comments:

Post a Comment