Wednesday, 24 February 2016

Puncak 29 (puncak songolikur) Rahtawu gebog Kudus

Jaman sekolah adalah masa yang mengasikan, karena hampir tidak ada beban hidup kecuali mengerjakan PR matematika, semuanya diisi dengan bermain dan bersenda gurau dengan teman, nah pada waktu SMA saya mengikuti kegiatan ekstra seperti karate, dan pramuka.

Tapi yang paling senang adalah ketika mengikuti kegiatan naik ke puncak gunung, saya kurang tau waktu itu adalah kegiatan apa , apakah ada hubungannya dengan ekstrakurikuler pecinta alam atau apa tapi yang pasti waktu itu saya selalu ikut naik ke gunung ketika ada acara tersebut.

Acara naik ke puncak gunung dapat dilaksanakan setahun 2 kali atau setahun sekali , lebih sering ke rahtawu daripada ke muria, di rahtawu ada tempat yang namanya puncak 29 (puncak songolikur) disana pemandangannya sangat indah.

Kami berangkat dari sekolah sore kira-kira habis asar dengan beberapa rombongan dan semua diangkut menggunakan truk besar seperti yang biasa digunakan untuk memuat tanaman tebu, walaupun berdiri tapi dapat memberikan cerita yang asik untuk dikenang.

Sampai di rahtawu kira-kira hampir maghrib ada juga yang baru sampai setelah maghrib karena ada beberapa gelombang untuk pengangkutan tersebut, jadi ada yang sudah jalan ada yang masih menunggu teman yang ada di truk belakang, walaupun ada segitu banyak peserta  namun semuanya dapat terkoordinir dengan rapi.

Nah, jaman dulu jalan menuju puncak masih berupa tanah dan tidak serapi sekarang , dan ada di sisi jalan itu berupa jurang, jadi kami harus hati hati, dan saling berpegangan tangan dengan penerangan seadanya, waktu itu saya juga kurang tahu kenapa setiap naik kepuncak berangkatnya mesti malam malam, tidak dari pagi, mungkin itu yang membuat perjalan menjadi tidak capek ya karena gelap.

ada dipertengahan jalan tempat istirahat namanya bunton, disini kalau lagi musim mendaki ada yang jualan kopi ataupun mie instan, namun dari kami juga sudah ada yang membawa bekal sendiri ada  yang membawa kompor, mie instan atauun bekal lainnya.

Namun di bunton ini kami biasa cuma makan bekal  yang sudah dibawa dari bawah tanpa memasaknya seperti roti dll, karena kami tahu seperti biasa disini hanya sebenar, cuma istirahat untuk meluruskan kaki yang pegal pegal, sembari tidur sebentar, untuk kemudian kira-kira tengah malam kami dibangunkan untuk melanjutkan perjalanan.

Kami melanjutkan perjalan dari bunton dini hari kira-kira pukul 1 malam , dan suasana sangat dingin sekali, dinginnya bukan main, namun ketahanan tubuh waktu itu sedang primanya jadi walaupun hanya pakai kaos tapi itulah tidak apa apa. Tapi rata-rata semua memakai jaket hanya anak-anak yang agak membandel yang tidak memakai jaket tapi kalau kedinginan akhirnya memakai sarung juga, karena di kepala terasa kemeng karena dinginnya itu di kupingpun rasanya kurang nyaman.

Hampir dipuncak gunung angin sangat kencang sekali mengingat area itu berada berada diketinggian yang saya kurang tahu tapi yang pasti tinggi banget karena kami dapat melihat kota kudus dari atas gunung ini, dan setiap ada kabut itu berasa seperti ada hujan karena ada air nya rintik rintik jadi seringkali membuat basah.

Sampai dipuncak gunung tepat pada saat fajar jadi kami dapat melihat indahnya matahri terbit dari timur, dan itu memang sangat indah sekali, sayang waktu itu saya belum mempunyai handphone secanggih sekarang yang dapat digunakan untuk mengambil photo kapan saja dan dimana saja.

Dipuncak gunung kami merasa lapar dan disinilah biasanya kami mulai menyalakan api untuk memasak bekal yang kami bawa dari bawah, rasa persaudaraan kekeluargaan sesasama teman berkembang disini, disini kami sudah seperti keluarga sendiri, jadi tidak ada rasa iri hati dendam maupun kebencian, yang ada adalah rasa kebersamaan.

Agak mulai terlihat cerah kami bergegas turun dari puncak, sebenarnya dipuncak banyak pemandangan ata tempat tempat untuk sembahyang orang orang sana tapi tidak saya ceritakan disini, karena artikelnya ini nanti menjadi terlalu panjang sehingga tidak nyaman untuk dibaca.

Ya sudah kami turun dari pegunungan dan turun itu ternyata lebih cepat daripada naik tapi capeknya di kaki terasa banget, seringkali kami kehabisan bekal air minum, namun di sana ada sumber air yang netes dari akar pepohonan, ataupun dari sendang / belik yang sudah ada airnya menggenang, walaupun di sana ada cacing ada katak ada hewan hewan lainnya tapi kami meminumnya karena saking hausnya tapi tidak menjadi masalah karena daya tahan kami prima waktu itu.

Dan akhirnya sampai bawah, sudah dulu ya, banyak cerita yang saya lewati karena ceritanya panjang banget, kalau ada pertanyaan coret coret di ruang komentar saja. oke, semoga bermanfaat kawan

No comments:

Post a Comment