Thursday, 21 April 2016

Perjalanan Menjadi seorang Wirausaha

Saya mempunyai seorang teman namanya Alay sekolah dari TK, SD Sampai memperoleh gelar sarjana, semua ini agar Alay pintar dan mendapat nilai bagus di sekolah sehingga akhirnya harapan keluarganya adalah Alay memperoleh tempat  kerja yang bagus seperti menjadi pegawai swasta ataupun pegawai negeri sipil (PNS) karena dengan menjadi PNS diharapkan mendapat keamanan finansial dengan gaji seumur hidup.

Namun menurut pandangan Alay secara pribadi kalau menjadi pns maka Alay tidak dapat bekerja secara professional, dan akan mentok dengan berbagai regulasi. Oleh sebab itu ia memilih menjadi pegawai swasta karena disamping belum punya modal untuk membuka wirausaha juga Alay menilai lebih professional dan mempunyai gaji yang lebih tinggi.

Setelah melamar di perusahaan swasta alay mempunyai karir yang bagus, dengan semangat yang tinggi dan mempunyai loyalitas terhadap perusahaan, bahkan tidak jarang Alay berangkat kerja pukul 07.00 pagi dan pulang pukul 11.00 atau sampai larut malam untuk mengerjakan tugas kantor, dan dengan seperti itu setelah 5 tahun bekerja alay diangkat menjadi directur perusahaan.

Dulu waktu alay masih menjadi karyawan biasa Alay tidak bisa membuat perubahan yang significant terhadap perusahaan sehingga saat ini saat Alay sudah menjadi seorang directur perusahaan Alay berhadap dapat membawa perubahan terhadap perusahaan agar lebih maju, Alay saat ini mendapat fasilitas kantor seperti fasilitas mobil dan tunjangan lainnya.

Alay yang masih mempunyai semangat tinggi untuk memajukan perusahaan rupanya terhambat oleh owner perusahaan yang tidak seberani dulu untuk membuat perubahan pada perusahaan padahal menurut cerita yang terseber owner perusahaan membangun perusahaan dari nol, namun ternyata Alay tidak menemukan sifat-sifat naluri kewirausahaan itu lagi di diri owner perusahaan. Sehingga perusahaan sering mengambil tindakan yang berorientasi pada jangka pendek dan memperoleh keuntungan semata dan tidak memperhatikan keuntungan jangka panjang.

Karyawan lain di perusahaan Alay sulit sekali memperoleh ijin kerja, bahkan ketika tiba-tiba ada keluarga karyawan yang sakit pun susah untuk memperoleh ijin kerja dan kalaupun terpaksa tidak masuk kerja maka hasilnya adalah mendapat potongan gaji. Disini Alay mengusulkan sesuatu dan ingin merubah sikap perusahaan tersebut agar mempunyai solusi yang win-win terhadap perusahaan maupun karyawan biar sama-sama enak bekerja.

Alay sudah bekerja di perusahaan tersebut dari awal perusahaan mempunyai 100 karyawan hingga saat ini tumbuh pesat menjadi sekitaran 1000 karyawan, dan Alay merasa mempunyai peranan terhadap perkembangan yang pesat tersebut, karena Alay menilai pimpinan perusahaan yang otoriter dan tidak mau menerima masukan Alay berinisiatif untuk mengundurkan diri dari perusahaan dan beralih menjadi wirausaha kerena melihat temannya Alay yang bernama Aan.

Aan dulunya adalah seorang yang biasa-biasa saja, bahkan saat Alay bekerja di kantor dan memakai fasilitas mewah kantor, Aan masih menaiki motor butut dan terlihat kekurangan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya namun si Aan tetap tekun menjalankan usahanya sehingga saat ini Aan dapat mengantongi laba bersih tiap bulannya 10 juta, dan ini lebih besar dari gaji Alay yang hanya 7,5 juta perbulan.

Walaupun begitu Aan adalah sosok yang bersahaja, sudah naik haji serta mempunyai dua orang anak, sedang Alay masih mempunyai cicilan rumah dan juga membiayai sekolah adik adiknya sehingga gaji perbulannya habis untuk mencukupi kebutuhan harian, disini Alay semakin mantap untuk mengundurkan diri dari perusahaan dan beralih menjadi wirausaha.

Saat Alay mengajukan surat pengunduran diri terhadap perusahaan pun ternyata si bosnya kaget dan menawarkan naik gaji untuk si Alay dan meningkatkan fasilitas kantor namun si Alay bersikukuh untuk menjadi pengusaha agar dapat menyalurkan energinya yang lebih untuk membuat sesuatu yang lebih besar lagi.

Alay pun membuka usaha sebagai seorang internet marketer, karena dia menilai bisnis ini dapat dijalani dengan modal yang relatif dapat dijangkau juga pasar yang luas terhadap semua produk, awal Alay menjadi wirausaha rupanya tidak berjalan mulus, dan selama 2 tahun menggeluti usahanya namun usahanya tersebut belum juga membuahkan hasil bahkan menciptakan  sebuah hutang untuk menutup biaya operasional rintisan bisnisnya tersebut, untuk sewa server dll.

Sehingga tak jarang Alay menahan lapar seharian dan yang dulunya minimal di dompet ada uang 200 rb selain itu dianggap tidak punya u ang namun sekarang dompet tersebut hanya berisi uang 10 ribu saja. dan Alay harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhannya tersebut, namun Alay tetap percaya bahwa rejeki itu datang dari Allah bukan dari perushaaan ataupun dari kantor tempat dulu ia bekerja, dan benar Alay tiba-tiba dihubungi dengan temannya yang mengadakan syukuran untuk anaknya yang ulang tahun dan ada banyak makanan tersisa daripada mubazir dan tidak ada yang makan disuruhkan Alay untuk datang kerumahnya dan mengambil makanan sepuasnya. Dan disini Alay mulai merasakan lebih religius dan banyak perenungan-perenungan yang dulu tidak pernah ia dapatkan sewaktu masih menjadi karyawan karena yang ada di pikiran dulu adalah hanya materi keduniaan saja.

Hampir saja Alay putus asa di tengah jalan dan bertanya-tanya dalam hati haruskah aku menjadi pegawai lagi?  dan Alay pun kembali bertemu si Aan yang sudah sukses dengan bisnis nya yang dibangun sejak lulus sarjana dan si Aan belum sempat merasakan kerja dikantor namun langsung merintis usaha, dan kini laba bersih usahanya sudah menjadi 20 juta perbulan disisi lain si Alay malah dititik paling bawah di dalam karirnya.

Si Aan selalu memberikan semangat untuk si Alay supaya gigih untuk menjalankan bisnisnya tersebut dan banyak cerita perjalanan Aan yang menginspirasi si Alay, Alay pun tambah semangat lagi untuk menjalankan bisnis internet marketingnya tersebut dan walaupun banyak bank-bank sudah memblokir si Alay dan tidak memberikan pinjaman, namun Alay sesekali meminjam kepada rentenir walaupun dengan bunga yang lebih tinggi.

Akhirnya di tengah perjalanan bisnis si Alay mulai menampakkan hasil dan banyak ide-ide cemerlang yang ada di otak si Alay untuk lebih mengembangkan wirausahaya dan saat ini si Alay ternyata sudah memiliki 10 tenaga kerja dari usaha yang dirintisnya, dan dalam waktu yang bersamaan si Alay mendapat kabar dari teman kantornya dulu di perusahaan bahwa perusahaan saat ini diambang kebangkrutan dari yang dulu saat Alay masih ikut mengelola perusahaan mempunyai karyawan 1000 orang sekarang hanya tinggal 100 orang dan si Bosnya yang dulu pun menurut kabar sering pulang larut malam dalam kondisi kelelahan karnea sering berfoya foya dan bersenang-senang.

Namun Alay sudah terlalu asik dengan bisnisnya tersebut dan mulai berkembang, dan disisi lain Alay merasa butuh seorang teman untuk perjalanan hidupnya hal ini tidak pernah Alay pikirkan semasa masih kerja di kantor, dan Alay menyadari bahwa Alay tidak ingin berpacaran seperti orang-orang tapi Alay ingin dengan cara seperti yang diajarkan oleh Agama karena hati manusia itu Tuhan yang memiliki.

Demikiaan, kesimpulannya adalah dalam membangun usaha dibutuhkan keuletan, ketekunan, bahkan sering kali di tahun tahun pertama, kedua dan ketiga merugi terlebih dahulu namun di tahun selanjutnya baru menuai hasilnya. Semoga bermanfaat.

No comments:

Post a Comment