Friday, 24 June 2016

Ayah ku seorang Mancing Mania

Pemancing mendapatkan ikan wader

Tukang mancing bu jawab anaku waktu ditanya bu guru di sekolah soal pekerjaan orang tuanya. Waduh aku jadi pingin malu mendengarnya, sepertinya remeh banget, rendahan, ga berkelas poknya, bahkan metuaku menganggab itu aib.

Padahal itu hanya maslah penggunaan bahasa, coba kita ganti dengan istilah MANCING MANIA kelihatanya keren padahal maknanya lebih parah, atau ANGLER kedengaranya seperti sebuah jabatan tinggi di perusahaan padahal mancing _ mancing juga.

Memang suka nggak suka mancing banyak kekuranganya diantaranya semakin dekat dengan dunia hitam, wajahnya tanganya, kakinya dijamin, setiap pemancing tidak pernah maju karna takut kecemplung.

Pemancing juga tidak realistik bayangkan hanya untuk satu dua ekor ikan yang gak seberapa nilai harganya, pemancing harus mengeluarkan banyak uang, tenaga dan juga waktu tentunya, belum resiko yang selalu mengintai bagi yang kurang waspada.

Ini harga yang tidak murah yang harus dibayar. Tentu masih banyak lagi kekuranganya perihal kegiatan mancing memancing, kalau pingin obyektif tanya saja para istri, anak atau mertua para pemancing. sebaiknya ini jadi pertimbangan bagi yang belum hobi mancing.

Lepas dari kekuranganya mancing juga mengandung kelebihan, diantaranya lebih banyak di kolam, sungai danau atau laut, lebih sering meninggalkan rumah, lebih memperhatikan joran dari pada istri dan lebih - lebih yang lainya lagi.

Tetapi lebih dari itu, mengumpat, marah, dendam, iri dengki atau ingin menguasai hak orang lain bisa diredam lewat mancing, karena dalam mancing kita di paksa untuk sabar, samakin tidak sabar semakin tidak dapat ikan.

Di dalam mancing kita di ajari untuk menerima berapapun rejeki yang jadi milik kita dan tidak galau dengan rejeki orang lain. Kata orang menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan, kaidah itu tidak berlaku dalam mancing.

Memancing di sungai

Menunggu sambran umpan adalah harap-harap optimis, bukan haraap-harap cemas. Bahkan menunggu di dalam mancing sering kita isi dengan zikir atau istigfar atau sekedar berkontemplasi karena biasanya lingkungan sekitar spot mancing sangat mendukung untuk itu.

Sholat lima waktupun tak lantas hilang karna mancing, meski kadang harus tayamum. Belum lagi untuk urusan kesehatan, di dalam mancing tak jarang kita harus traking dua jam naik dan turun bukit.

Belum lagi pemandangan indah yang gak bisa di peroleh lewat biro wisata yang manapun di negri ini dan belum lagi belum lagi yang lainya yang tak bisa di ungkap satu-satu, kecuali di jalani seperti para penggila mancing atau para ANGLER.

Jangan di fikirkan bagi yang tidak suka mancing, tapi cukup di rencanakan saja bagi yang ingin merasakakan sensasinya.

No comments:

Post a Comment