Thursday, 9 June 2016

Jarak Tanam Kelapa Sawit yang Benar

Jarak Tanam Kelapa Sawit
Jarak tanam kelapa sawit
 Jarak tanam kelapa sawit di lahan gambut dan di lahan biasa sebenarnya sama saja tergantung kemiringan, yaitu 9m x 9m (segitiga sama sisi) yang berarti di dapat jumlah populasinya 143 tanaman/ha. Kenapa dianjurkan 9x9m? 

1. Agar dahan /pelepah tidak bertumpang tindih.
2. Agar sinar matahari bisa menembus seputaran tanaman kelapa sawit agar penguapan tanah bisa bebas.

Untuk tanaman yang di lahan pegunungan dengan kemiringan yang kira-kira pelepah tidak bertumpang tindih bisa dikurangi jarak tanamya, tapi harus di buat tapak kuda.

Untuk pemupukan misal pakai pupuk NPK, maka untuk 1 pokok tanaman sawit yang berumur 3 tahun ke atas dosisnya kira-kira antara 3,80 - 7,60.

Selain itu ada juga kawan-kawan yang menyarankan untuk memakai populasi 136 saja, karena kalau 124-128 pokok / ha itu dikhususkan untuk tanah kelas 1, sedangkan lahan gambut biasanya untuk tanah kelas 2 atau 3.

Sebagai tambahan, menurut beberapa kawan-kawan yang masih bekerja di lapangan yang sebagian besar berada di kasawan Kalimantan Timur, Kalimantan khususnya telah berubah menjadi perkebungan kelapa sawit. Jarak tanam kelapa sawit bisa sampai 4m x 5m atau 5x5m. Yang artinya sebelum tajuknya besar maka banyak ruang yang terbuka lebar karena banyak perkebunan kelapa sawit menghendaki land clearing yang benar-benar bersih, semakin bersih semakin bagus. Bahkan untuk membersihkan lahan secara murah ada yang samapai membakar lahan.

Dari segi konservasi tanah sebenarnya tidak begitu baik, karena butiran-butiran air hujan langsung membentur permukaan tanah, yang kemudian mengalir di permukaan tanah sambil membawa unsur hara dan masuk ke sungai melalui anak-anak sungai.

Akibatnya air sungai menjadi keruh dan terjadi pendangkalan dihilirnya, sedimentasi, itu juga sebabnya maka kebuh kelapa sawit harus secara rutin di pupuk agar kesuburan tanah tetap terjaga. Tapi benarkah seluruh pupuk bahan kimia itu berhasil diserap oleh pohon-pohon sawit?

Jawabannya tentu TIDAK, sebagian yang tak terserap larut bersama tetesan-tetesan air hujan tadi yang masuk ke sungai, dan menjadi racun bagi biota yang hidup di sungai tersebut, termasuk pengguna air tersebut, yaitu manusianya yang bermukim di sepanjang kiri dan kanan sungai, ikan, pesut, timpakul, ketam. Dulu di tahun 1960 an di tepi sungan Mahakam dean rumahku mudah ditemui timpakul yang sebesar jempol kaki orang dewasa, kini? masih mudahkan ditemukan disitu?

Memang laju pembangunan itu harus memakan korban, tapi sebaiknya sesedikit mungkin memakan korban.

Tabel hubungan jarak tanaman, bentu jarak taman, populasi tanaman sawit

No comments:

Post a Comment