Thursday, 30 June 2016

Mendem, Kesenian Ebeg (Kuda Lumping) Banyumas

Kesenian Ebeg Kuda Lumping
Kesenian Ebeg Kuda Lumping

Tahun 2002, Saya mengenal kesenian ini, sampai akhirnya tertarik untuk mengenal lebih dalam. Seingat saya , ketika itu sangat penasaran kaya apa sih yang namanya mendem? sampai rasa penasaran itu jatuh sangat dalam ke alam bawah sadar.

Terjadi pada saat saya masih kelas 2 SD . bersama teman-teman yang lain saya bermain dengan sapu , sampai akhirnya tak sadar mata mulai memarah dan penglihatan kabur kata teman saya, gempar.. Saya pun disadarkan oleh Bu Guru , dan langsung diantarkan pulang karena dikira kesambet.

Eh sejak kejadian itu, kalo denger suara gending mulai pusing, dan berjalanya waktu bertambahnya hari , bertambahnya pergaulan hingga mengenal Galang Satria dan mulai bertanya tanya, golet indang ngendi lah sing maen, kedunggde ae ,

Bersama amin dan teman-teman , saya mulai menjelajah Banyumas, dan 2008 kalau tidak salah saya mengenal Mbah Do'eng dan mulai bergabung dengan mereka semua. Dan sering berkumpul hingga tepatnya di depan LP Banyumas sempat membuat grup yang bernama Civas 36.

Kemanapun dimanapun ada sebuah pementasan pasti selalu ada kami, 2011 kalau tidak salah mengenal Waslim Buzziel orang yang aneh, katanya gak suka Ebeg Takut Ebeg, eh malah penasaran kepengin nambani(menyadarkan) aku, dan disuatu hari dia ‪mulai bertanya-tanya bagaimana caranya?,

Rasa penasaran Beliau sangat besar kemana pun dimanapun saya nonton beliau selalu mengikuti, dan ketika saya kerasukan tidak ada yang ngurusi , Beliapun mulai berani perlahan mendekat dan mengucapkan beberapa rapalan untuk memulangkan tanda kutip milik saya, dan saya pun mulai nyaman ditambani olehnya.

Sekilas info motivasi untuk kalian yang belum bisa mendem, sebenernya gak perlu ngelmu kemana-mana , asal kita punya rasa penasaran yang tinggi dan yakin ikhlas ingin nguri-uri pasti semua akan berjalan dengan mulus tanpa harus goleti indang werna werna. (Sumber : Satrio Agung)

Orang yang "mendem" atau orang biasa menyebutnya kesurupan akan tidak sadarkan diri ketika gamelan ditabuh dan dia akan didatangi penari yang kesurupan duluan hingga seberapun dia kabur jauh, penari tersebut akan menubruknya hingga pemain tersebut kerasukan jiwa yang berbeda dan menari tak sadarkan diri.

Karena tak sadarkan diri seolah-olah tubuhnya kebal hingga makan kembang campur dedak dan kaca beling, makan bunga kantil, menghirup asap kuncup pelapah pohon kelapa, dan meminum pewangian serta kebal pecut dan mengupas kelapa dengan gigi.

Penari Ebeg yang Kesurupan Makan Beling
Penari Ebeg yang Kesurupan Makan Beling

Tapi untuk beberapa orang yang belum bakat, yang nama nya mendem tidak bisa langsung begitu saja bisa. Dan katanya yang terpenting adalah "punya pegangan", itu salah satunya yang pertama, dan yang kedua harus ada indangan buat para leluhur yang sudah mendahului kita, juga buat roh-roh yang masuk ke tubuh kita.

Untuk mendapat pegangan harus berguru sama orang, karena ada amalan-amalan yang harus dikerjakan.

Demikian, Mari lestarikan Budaya dan Kesenian Tradisional Indonesia.

No comments:

Post a Comment