Saturday, 18 June 2016

Orang Tuaku Pemarah, Keras Kepala, dan Hobi Bentak-Bentak


Foto saya waktu masih umur 7 tahun sedang dimarahi Ibu

Mungkin hal ini belum pernah diketahui oleh banyak teman-temankuku, dan terlihat aku seperti anak kebanyakan namun pendiam, lemah, pemalu serta suka memendam marah atau kejengkelan. Dan aneh karena bagi sebagian orang mungkin sosok Ibu bagaikan sesosok malaikat, bukannya sesosok monster.

Dari kecil sampai sekarang umur 24 tahun aku selalu dimarahi Orang tua saya khususnya Ibu saya, tiada hari tanpa bentakan, memang watak dari keluarganya semua keras kepala, dari tante, om pemarah, tukang ngomel, suka jambak, tak jarang kepalaku di jengguk. Tukang adu kekuranganku di tetangga dan keluarga lainnya.

Sehingga belum pun aku keluar ketika orang-orang sekitar melihatku sudah mempunyai persepsi yang sama persis dengan yang Ibu saya katakan, seperti saya dibilang pemalas, keras kepala ataupun hal memalukan lainnya. Dan aku pun jadi kurang suka bergaul dengan tetangga atau dengan keluarga lain.

Sesekali aku ingin membela diri bahwa yang diomongkan oleh Ibu saya tersebut tidak benar namun apa boleh buat, berita tentang saya sudah tersebar kemana-mana dari mulut Ibuku kemudian tersebar viral kemana-mana dari mulut ke mulut, sehingga saat aku melarang Ibuku dan kalaupun Ibuku tersadar tentang apa yang dia lakukan berdampak buruk pada reputasiku hal itupun tak sanggup menghapus kabar yang telah beredar.

Ingin kalau diberi kesempatan saya mungkin membuka siaran press seperti artis artis di televisi biar saya menjelaskan tentang siapa diri saya yang sebenarnya, agar setiap orang tidak menayakan apa yang salah pada diri saya, dan menghapus persepsi buruk yang disebarkan oleh Ibu saya.

Itu yang kemudian membentuk karakter ku selama ini, karakter penakut, tukang cemas, serta tak jarang terkena serangan panik. belum lagi pas saya sedang sakit bukannya di tolong dianter berobat tapi malah dimarahi, dibentak habis-habisan. Hal ini tidak pernah saya lupakan. Semua kejadian itu membekas di otak saya.

Sejak kecil juga aku jarang dituruti apa yang aku minta, bahkan ketika sudah SMA teman-temanku membawa hp tapi cuma aku yang belum punya, padahal ini merupakan alat komunikasi yang penting menurut saya untuk membangun jaringan pertemanan kala itu, dengan hp dianggapnya oleh Ibu saya barang ini akan bikin maksiat. sehingga akibat saya tidak mempunyai perangkat tersebut dan selalu ketinggalan informasi.

Begitupun juga saat saya kuliah, kebutuhan laptop sangat penting untuk menunjang kebutuhan saya yang kuliah di jurusan komputer, namun lagi-lagi dianggapnya laptop barang untuk maksiat seperti bermain game dll. Mengapa dia tidak tahu, dan tidak mau mendengar penjelasan saya sedikitpun. Selalu marah-marah, dan saya tidak diberi sedikitpun kesempatan untuk membenarkan atau membela diri, Ibuku selalu merasa paling benar, bahkan saat dia salah itupun dianggapnya benar.

Dia tidak mau belajar tentang hal baru, tentang cara berkomunikasi dengan anak yang baik dan benar. Saat saya benar saya dapat bentakan, saya salah apalagi.

Aku bukan anak yang manja, bahkan cenderung mandiri. Jadi semua barang yang aku inginkan pasti saya yang beli sendiri sedari kecil, dari handphone, laptop, sepeda motor, gitar, radio komunikasi. dll

Makannya aku iri pada anak lainnya yang mendapat fasilitas dari orang tua, serta jarang dimarahi.

Hal yang paling membekas adalah ketika aku kecil diajak teman-teman main dingdong, atau mandi di sungai , ini adalah hal yang wajar dan menyenangkan bagi anak-anak. Namun lagi-lagi setelah sampai rumah saya selalu dibentak, kalau cuma saya yang dibentak tidak apa-apa bahkan parahnya teman-teman saya juga ikutan dibentakin, ini yang membuat saya malu bergaul.

Praktek marah-marah ini sempat berhenti ketika aku lulus kuliah dan bekerja, selama saya bekerja aku jarang mendapat marah namun sesekali mendapat pula. Dan ketika itu aku merasa bebas tidak ada yang salah pada diriku.

Namun tak disangka aku harus resign dari  pekerjaan karena suatu hal dan saat ini masih menganggur selama 2 tahun, selama ini pula rentetan marah, bentakan, cacian, omongan yang menyakitkan hati keluar dari mulut Ibuku dan ditujukan kepadaku.

Aku hanya diam saja karena aku tahu tidak dapat melawan mengigat sekarang posisi ku sedang dibawah, rasanya aku sudah tidak tahan, dada ku sesak, bahkan sedikitpun kelak aku bertekad tidak minta apapun warisan dari orang tua.

Bahkan ketika aku mempunyai mimpi selalu diremehkan, misalnya saya ingin menjadi pengusaha kerena banyak talkshow ataupun buku referensi yang saya baca bahwa setiap orang untuk mempunyai kesempatan yang sama. malah saya di bentak dimarahi habis-habisan. Setiap ide bisnis yang saya keluarkan selalu di judge tidak akan sukses, bahkan dijadikan bahan olok olokan.

Ibuku bukan tipe orang yang selalu bersyukur, aku selalu dibanding-bandingkan dengan anak orang, si ini , si itu, jadi pegawai, jadi guru, padahal menurut saya setiap orang itu berbeda bahkan yang kembar sekalipun. Karena dari orang tuanya pun beda, makan nya beda . referensi referensi yang masuk di otak pun masing-masing beda, sehingga menyebabkan perbedaan pandangan.

Orang tuaku selalu memandang kekurangan yang ada pada diriku, padahal kalau kekurangan dibandingkan dengan kelebihan orang lain pasti hasilnya kecewa. Tidak ada sekecilpun kelebihan dariku yang dia lihat. semuanya keburukan yang ada pada diriku.

Oleh sebab-sebab itu pula dari SD sampai kuliah bahkan bekerja aku tidak pernah membolehkan teman-temanku main ke rumah, karena mood saya selalu tidak enak jika di rumah, takutnya obrolan teman-teman saya di rumah menjadi kaku dan kacau, karena suasana rumah yang menegangkan.

Takutnya lagi kalau Ibuku marah-marah, ini adalah hal yang memalukan buat saya, dan dengan inipula saya harus menghindar jika teman-teman ingin main kerumah.

Dengan ini pula mungkin yang menyebabkan tubuh saya selalu kurus padahal sudah makan banyak, serta saya merasa canggung untuk bergaul dengan teman yang lain, saya merasa aneh, merasa paling rendah, dan tidak pantas bergaul dengan orang lain.

Yang paling saya benci adalah setiap ketemu saya kenapa selalu wajah marah yang ada , tidak pernahpun sesekali bergurau atau bercanda tertawa dengan saya, selalu wajah marah, mata melotot, nada suara yang tinggi. Ini sedikit banyak mempengaruhi jiwa saya. Padahal kalau ketemu orang lain dia bisa tertawa dan bercanda.

Dan satu lagi kakak perempuan saya dulu nya juga seperti itu sering dimarahi, akhirnya sekang sudah punya suami dan tinggal di tempat yang jauh dari rumah orang tua , serta jarang main ke rumah dan sekarang sudah hampir satu tahun tidak berkunjung, mungkin karena alasan ini pula dia menjauh dari rumah.

Ingin juga rasanya saya pergi dari rumah dan merantau ke kota lain, namun saya tahu belum mempunyai arah serta modal yang cukup untuk hidup mandiri di kota orang. Yang saya lakukan saat ini adalah mencari modal untuk pergi dari rumah dengan bekerja keras salah satunya dengan ngeblog seperti ini berharap ada keajaiban.

Maaf Ibu mungkin ini hal yang jelek juga bagi saya karena menuliskan sesuatu yang buruk tentang Anda, Dan bukannya saya tidak takut dosa atau durhaka, tapi hal ini perlu menjadi pelajaran untuk semua orang, bahkan yang sedang mengalami sebenarnya ada anak-anak lainnya yang mungkin juga diperlakukan lebih parah. namun dengan ini saya berjanji memutus sifat pemarah dan bentak-bentak tersebut. saya akan menyayangi keluarga saya dan anak-anak saya kelak.

Juga saya bersyukur lahir dari keluarga yang berantakan seperti ini, oleh karena itu saya dapat menuliskan artikel ini, serta perasaanku peka terhadap anak-anak lain yang selalu mendapat marah dari orang tuanya, Namun lagi-lagi saya belum mempunyai kekuatan untuk menolong mereka.

Dan suatu saat saya ingin mendirikan sebuah tempat khusus untuk menangani anak-anak yang mengalami hal seperti ini, serta untuk memulihkan kondisi mental serta psikis mereka. Selain itu juga mensosialisasikan cara memperlakukan anak yang baik dan benar.

Sekali lagi saya rasa tulisan ini bukan hal yang negatif. karena dapat menjadi pembelajaran pula, so perlakukan anak sebagai manusia seutuhnya, jangan menganggapnya sebagai benda milik Anda yang dapat Anda perlakukan sesuka Anda karena anak adalah titipan yang harus di rawat dengan baik dan nanti akan dimintai pertanggung jawaban.

Tidakkah Anda pernah berpikir banyak orang tua yang tidak dikaruniai anak berusaha dengan keras meminta, berobat, berdoa, untuk supaya dapat anak, bahkan dengan program bayi tabung yang ongkosnya selangit, atau mengadopsi anak orang.

Kemudian anak bukanlah sesuatu yang dapat menjadi pelampiasan keinginan Anda misalnya anak didikte menjadi dokter, menjadi tentara, menjadi pegawai. Memang mungkin ini keinginan Anda pribadi yang belum kesampaian, tapi anak mempunyai  pikiran dan hati sendiri, mereka berhak menentukan ke arah mana hidupnya, mereka mampu berpikir, mana yang sesuai mana yang tidak sesuai dengan dirinya. Mana yang disukai dan mana yang tidak disukai. Jadi sekali lagi jangan memaksakan kehendak pada anak.

Demikian sebenarnya banyak yang ingin saya tuliskan, namun mungkin akan membosankan dan akhirnya saya ingin mencari keluarga baru, lingkungan baru yang lebih positif, yang menerima saya apa adanya serta mendukung dengan potensi yang saya miliki.

No comments:

Post a Comment