Friday, 17 June 2016

Ukuran Kepuasan/Satisfaction Dalam Hidup

Satisfaction
Sebagai contoh, pada saat kita menginginkan sebuah mobil maka nilainya bisa jadi 7, namun saat kita sudah memilikinya maka nilainya berubah menjadi 5, kemudian berlanjut setelah beberapa bulan nilainya menjadi 3 dan seterusnya. Sampai akhirnya mobil tersebut hilang. Nah pada saat kita kehilangan mobil tersebut nilainya malah menjadi 10. Karena kita baru merasa mobil itu bernilai ketika kita sudah kehilangan mobil tersebut.

Begitupun dikantor, pertama kita ingin bekerja di sebuah perusahaan tertentu, sebelum diterima masih dalam tahap inteview tingkat kepuasan mungkin 8 karena merawa wah bisa interview di perusahaan ini nih.

Namun setelah diterima menjadi karyawan nilainya berubah menjadi 7, dan setelah berjalan selama beberapa bulan munkin nilai nya jadi 6, dan pada akhirnya kita menganggap hal itu tidak penting atau unvervalue, sehingga kita bekerja sembarangan dan mendadak resign. Setelah resign kita menyesal dan berpikir tidak dapat mendapatkan perusahaan yang enak seperti itu dan  pada saat itu nilainya bisa menjadi 10.

Kenapa bisa begitu? karena kita fokus pada "wanting". yaitu fokus pada yang belum dimiliki, namun kenyataan setelah kita memilikinya maka kita mencari wanting / keinginan yang lain, dan begitu seterusnya.

Oleh sebab itu kita dapat menyimpulkan rumus kepuasan adalah :
Kepuasan = Enjoying - Wanting, artinya menikmati dikurangin dengan menginginkan.

Ada yang menarik ini wanting boleh-boleh saja asal kurang dari enjoying. Caranya tambah enjoy nya, misal wanting nya ingin 3 hal, berarti minimal enjoying nya harus 4 atau 5, dan lebih baik lagi enjoying nya harus diperbanyak lagi sampai 10 lah, jadi kepuasan hidupnya masih tinggi.

Ada contoh kasus, seorang pasangan dulunya pada saat masih pacaran merasa puas, indah-indah saja, dan bahagia tapi kenapa setelah menikah si wanita merasa selalu dimarahi laki-lakinya dan semua kebiasaan jelek laki-lakinya terbongkar, dalam hal ini apa yang salah kira-kira? Apakah si wanita salah memilih pasangan?

Mestinya kalau fit and proper testnya cukup pasti ketahuan pada saat masih pacaran. Karena kepuasan hidup tergantung pada fokus. Fokusnya kemana? kalau masih pacaran fokusnya bukan ke hal yang jelek dari pasangan dan pastinya yang diperhatikan ke hal-hal yang baik dari pasangan. Nah sayangnya setelah menikah fokusnya berubah bukan ke hal-hal yang baik tapi ke hal yang buruk dari pasangan, padahal baik dan buruk itu selalu ada pad setiap orang.

Wanting - Having - Enjoying = Ini yang namanya memuaskan

Tapi sayang salam hidup  ini, biasanya setelah wanting kemudian having tapi balik lagi ke wanting bukannya Enjoying, dan inilah yang membuat kita tidak bahagia.

Dari contoh kasus pasangan di atas muncul sebuah pertanyaan, Kalau suami tidak ada baiknya tapi kenepa mau menikah dengan dia, yang salah siapa?

Hidup ini kombinasi antara enjoying dan wanting, Wanting itu perlu apalagi kita masih muda, jadi kita ingin meningkatkan diri ini adalah termasuk wanting, ingin berpenghasilan tinggi, karir yang cemerlang, selama ini wajar-wajar saja. Jadi wanting tidak selamanya negatif tapi ada wanting yang positif.

Kalau kita ingin itu (kepuasan) pastikan enjoyingnya ditingkatkan. Kalau bisa dua kalinya wanting. karena biasanya kita hanya memikirkan wantingnya saja kemudian kita tidak membuka mata, pikiran dan hati tentang apa yang sudah kita miliki saat ini yang sangat berharga.

Misalnya, ada orang di sebuah perusahaan yang hebat tapi dia tidak melihat kehebatan perusahaan itu, malah dia melihat wanting yang lain, dan iri pada temannya yang diperusahaan lain misalnya dalam hatinya wah kamu hebat ya bisa diperusahaan tersebut. Padahal sebenarnya perusahaan yang dia tempati itupun juga baik dan diidamkan oleh orang-orang. Dan ini tidak baik karena kita cuma wanting saja tapi tidak enjoying.

Contoh kasus lainnya, banyak orang sudah mempunyai istri cantik, solehah tapi kok malah ingin yang lain yang lebih rendah dari istrinya, karena kecenderungan kita "selesai" dengan apa yang kita miliki, misal kita punya rumah maka kita sudah selesai dengan rumah ini dan ingin rumah yang lain.

Apa sih definisi sukses itu? sukses itu mendapatkan apa yang kita inginkan. Namun sayangnya kita menginginkan kesuksesan yang lain tapi tidak pernah menikmatinya.

Wanting boleh, selama keinginan masih masuk akal, silakan. Yang aneh itu kalau orang gak punya keinginan, makan gak mau, diajak kerja gak mau, diajak apa-apa gak mau, ini malah yang repot. Dan saya ingatkan kembali pastikan bahwa enjoying itu kalau bisa 2x nya wanting dalam artian enjoying harus lebih besar dari wanting.

Karena dalam kehidupan ini ada rumus "the rule of true". Apa itu? kita selalu menginginkan dua kali dari apa yang kita miliki, misal kita punya gaji 1 juta di kantor, setelah punya gaji 1 juta kita ingin gaji 2 juta, setelah gaji 2 juta, kita ingin 4 juta, setleh itu 10 juta.

Dan karena ada "the rule of true" kalau ingin bahagia caranya bikin list 10 apa yang diinginkan dalam hidup ini, ada berapa sih?

Kemudian bikin list lagi tentang enjoying, kalau bisa 20, jadi count blessingnya ini. Kalau belum 20 maka itu artinya belum dua kalinya. Apalagi kalau kurang ini tentu tidak bahagia, yang kita inginkan 10 dan yang kita nikmat 5 misalnya ini namanya defisit.

Jadi kepuasan itu macam-macam, yang paling dasar kepuasan itu mengandalkan pada materi, dan tentu kalau mengandalkan materi kita tidak akan pernah puas.

Sebuah kutipan, Socrates pernah mengatakan "siapa yang tidak puas dengan apa yang sudah dia miliki, pasti tidak akan puas dengan apa yang akan dia miliki"

Memang pada dasarnya orang ini tidak puas, jadi siapapun yang tidak puas dengan apa yang sekarang pasti nggak akan puas dengan yang nanti. Para ahli mengatakan kalau orang mendasarkan pada materi namanya bukan kepuasan, bukan satisfaction tapi addiction atau ketagihan, khan jadinya nagih-nagih terus.

Misalnya yang bukan materi, Kepuasan dalam hubungan, punya teman-teman yang baik, sahabat yang mendukung, keluarga yang menyayangi, ini adalah kepuasan sosial.

Naik lagi mental, misalnya, saya bisa tumbuh menjadi orang yang lebih baik dari hari ke hari, karena ciri hidup adalah pertumbuhan. Karena kita diciptakan Tuhan adalah dengan potensi bertumbuh.

Contoh kasus yang lain misal wanting nya kita ingin punya atasan yang baik, tulis saja itu semua. Boleh-boleh saja tapi kalau kita tidak menambah enjoyingnya maka kita akan frustasi dan stress.

Nah caranya untuk tetap puasa adalah tambah enyoyingnya seperti, Apa sih kelebihan perusahaan ini? Apa kita dipaksa di perusahaan ini? Misalkan kita menjawab "dulu khan tidak tahu  kalau perusahaan ini seperti ini". Tapi itu khan dulu, tapi kenapa sekarang sudah tahu masih tetap di perusahaan tersebut? khan kita punya pilihan mau tetap disini atau keluar?, tapi cari kerja khan susah. Ya makannya balik lagi disini khan cuma perusahaan tersebut yang mau menerima Anda, jadi ini yang paling baik bukan?

Ada faktor yang menarik:
orang mempunyai gaji 10 juta tapi orang sekitar gajinya 15 juta, ini orang tidak happy,
Dia happy kalau dia gajinya 8 juta tapi orang sekitar 5 juta, padahal khan gajinya turun. Dan ini berlaku pada semua sektor. Misalnya, Kepuasan anak mempunyai nem itu tergantung dari siapa bandingan kita. Kalau kita melihat ornag lain tinggi kita tidak happy, tapi ada anak  yang nilainya 6 yang lainnya 5, maka ini bisa happy.

Untuk itu kurangi kebiasaan kita membandingkan diri dengan orang lain, karena kalau kita bandingkan, kita membandingkan kelemahan kita dengan kelebihan orang lain. Bayangkan itu, bikin frustasi.

Kesimpulannya adalah life satisfaction adlaah enjoying dikurangi wanting. Rumus ini berlaku untuk semua masalah di kehidupan. Pastikan enjoying Anda 2 kali lebih besar dari wanting Anda.

No comments:

Post a Comment