Tuesday, 12 July 2016

Kisah Cerita Pengalamanku Tersesat di Hutan Gunung Sumbing Via Kaliangkrik

Tersesat di Gunung Sumbing
Tersesat di Gunung Sumbing

"Tenang kawan, kita pasti bisa melewatinya, bersama" Kataku menenangkan Ndoko yang hampir putus asa mengetahui bahwa kami memang tersesat.

"kita hanya perlu tenang, fokus dan semangat untuk melewati ini, kita hanya perlu berjalan kearah barat dan semoga menemukan jalur yang benar, tenang kawan"

Minggu, 29 Desember 2013, mungkin bagi kalian tanggal tersebut merupakan tanggal tanggung untuk menjejaki alam yang menjulang tinggi. Karena tanggal 31 bisa kita mendapat momen yang lebih hebat saat pergantian tahun diatas Gunung.

Tapi begitulah rencana awal kami, memang saat itu selalu turun hujan di daerah kota kami Magelang, Jawa Tengah. Rencana kami adalah mendaki Gunung Sumbing(3371 mdpl) dan terletak di kabupaten Magelang,Wonosobo dan Temanggung.

Pada awalnya kami tertarik untuk mencoba jalur Garung,Wonosobo. Tetapi entah pikiran dari mana yang berani memutuskan untuk melakukan pendakian via Butuh, Kaliangkrik. Berbekal hanya Catper yang kami dapat dari Internet dan tanya sana tanya sini akhirnya kami nekat juga melakukannya.

Menurut Catper untuk mencapai Basecamp pendakian/rumah Pak Kadus tidak ada angkutan umum kecuali menyewa angkutan-angkutan tukang sayur ataupun membawa kendaraan sendiri.

Pendakian kali ini hanya kami lakukan berdua saja, karena PA kami yang biasa ikut mendaki punya banyak alasan untuk menolak tawaran kami untuk menjejaki Gunung Sumbing via Kaliangkrik yang pertama kali kami lakukan ini.

Jalan menuju Basecamp sangatlah susah, bahkan Supra 2007-ku tidak kuat walau hanya ditumpangi 2 manusia.

Kami sampai di Basecamp pukul 12.00, setelah sholat, final packing dan mengobrol sebentar dengan Pak Kadus kami mulai melakukan pendakian pukul 13.00. Pak Kadus hanya berpesan “Jika ada percabangan selalu ambil jalur yang kiri ya mas”.

Trek pertama yang harus dilalui merupakan jalan berundak yang telah tertata rapi, dan juga kanan kiri kami yang masih ladang penduduk.

Mungkin trek pertama ini yang bisa dianggap membosankan oleh pendaki, karena jalur berundak yang kanan kirinya ladang kurang lebih harus ditempuh selama 3jam, dan sama sekali tidak ada variasi.

Di saat trek berundak itu pula kita masih bisa berpapasan dengan warga sekitar yang akan pulang dengan sayuran di punggungnya ataupun yang akan naik menuju ladang sayurannya yang sangat jauh diatas.

Sebuah semangat yang hebat menurutku, mereka setiap hari naik turun menuju ladang mereka yang diriku pun merasakan naik baru setengah jalan sudah hampir menyerah.

“Nulan nuwun pakdhe, budhe” “nggeh monggo mas, ajeng ting kawah?” “enggih, monggo pak” mungkin dialog itulah yang selalu terjadi ketika kami bertemu dengan warga sekitar.

Kami melewati trek pertama ini kurang lebih 2 jam, 1 jam lebih cepat dari pada Catper yang kami baca.

Setelah itu mulai memasuki area hutan yang tidak begitu lebat. Yang aku herankan hanyalah pada saat pendakian itu kami sama sekali tidak bertemu dengan pendaki lain, mungkin karena jalur ini belum sepopuler jalur Garung, Wonosobo.

Jalur hutan yang jalannya masih berundak ini dapat ditempuh selama 30 menit kurang. Diujung hutan terdapat percabangan ke kanan atau ke kiri, kami ingat kata pak Kadus makanya kami ambil kiri.

Tapi itulah kesalahan pertama kami, tidak melihat apakah ada jejak kaki atau tidak di tanah yang akan kami lalui. Karena jalur ini sama sekali tidak ada petunjuk jalan dan juga jalur ini sudah mulai tertutup semak-semak yang cukup lebat.

Akhirnya kami kembali ke percabangan pertama setelah 30 menit “nyasar” dan memang betul kami memang salah jalan.

Setelah percabangan samar itu terdapat Pos 1 yang dulunya merupakan gubuk untuk para warga sekitar yang sedang mencari kayu bakar tetapi sekarang sudah tidak terdapat lagi gubuk itu tapi masih bisa didirikan 1 tenda ukuran 4-5 orang dan 2 tenda ukuran 1-2 orang.

Menurutku, jalur setelah pos 1 merupakan jalur yang sangat nyaman, yang sangat membuat pendaki rindu akan jalur ini. Hanyalah jalur naik turun melawati beberapa punggungan bukit tapi sangatlah nyaman, serta melewati beberapa kali yang bisa menjadi Air terjun saat musim penghujan tiba dan juga menjadi mata air bagi pendaki.

Serta pemandangan di sisi kanan pendaki yang sangat indah menurut saya. Kami lewati begitu saja kali pertama yang berjarak hanya 2 menit berjalan dari pos 1.

Di kali kedua kami memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk menikmati air gunung yang sangat nikmat di tenggorokan kami, serta untuk menunakan ibadah sholat Ashar karena jam sudah menunjukkan pukul 16.10.

Diatas batu kali yang besar itu kami menunaikan ibadah sholat kami. Jarak antar sungai relatif sama dan tidak terlalu jauh. Mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk menuju ke kali lainnya, mungin juga dikarenakan jalannya sangat landai dan nyaman.

“Pos 3, break bentar Ndok” kataku. Pos 3 merupakan kali ke-6 yang banyak terdapat kubangan air untuk dimanfaatkan oleh para pendaki. Kami hanya isitirahat untuk mengisi botol-botol kami yang mulai habis.

Di pos 3 terdapat percabangan lagi, yang kiri menanjak membawa kita ke jalan yang benar sedangkan yang lurus turun merupakan jalan bagi warga yang biasa mencari kayu bakar.

Jalan setelah pos 3 mulai terjal kembali, tetapi kami masih bisa menemui sungai yang aku hitung total ada 9 sungai. Sungai ke 9 merupakan Watu Tulis yang biasa digunakan pendaki untuk menulis apa saja yang mereka inginkan.

Memang bisa dikatakan vandalisme tapi itulah budaya yang hampir mengakar di kalangan pendaki. Total dari sungai pertama hingga sungai terakhir membutuhkan waktu 1 jam.

Setelah melewati punggungan terakhir kita akan melewati padang sabana yang sangat indah dan tidak ada kalahnya dengan padang sabananya Merbabu. Tapi keunggulan disini adalah Bunga-bunga Edelweis tumbuh subur di sekitar padang sabana membentuk padang Edelweis di dalam padang sabana.

Nah, di padang sabana ini kami menemui lagi percabangan samar ke kiri atau ke kanan. Tapi kali ini kami ikut akan kata-kata pak Kadus, kembali jalan kiri yang kami ambil.

Saat kami mencapai percabangan itu matahari sudah mulai tenggelam dan digantikan oleh sinar redup rembulan. Samar-samar kami melihat Gunung Merbabu dan Gunung Merapi di belakang kami.

Perlu di ketahui, jalur Kaliangkrik merupakan jalur selatan tapi pendaki harus memutari ¼ gunung menuju arah timur untuk mencapai puncaknya. Sayangnnya kami tidak bisa melihat Sunset karna terhalang oleh sisi lain gunung Sumbing.

Dan terpaksa pula kami mengeluarkan Senter dan juga Headlamp kami.

Tepat pukul 18.00 kami sampai di kawasan Pos Pohon Tunggal (PPT) sebuah Camp Ground yang ditandai 1 pohon yang berdiri gagah di tengah terpaan angin gunung yang selalu berhembus kencang.

Di PPT hanya bisa didirikan 3-4 tenda. Tapi semuanya masih dalam keadaan miring, agak kurang nyaman memang.

Setelah mendirikan tenda berukuran 4-5 orang, kami bergantian dalam menunaikan sholat Maghrib, pertama Ndoko yang sholat duluan sedangkan aku menyiapkan perapian dan nesting untuk kami memasak.

15 menit berlalu dan kini giliranku untuk menunaikan ibadah Sholat Maghrib. Dengan Tayamum serta bersajadah Matras yang agak kotor ku tunaikan kewajibanku sebagai seorang Muslim.

Sungguh, ini lah pengalaman emosionalku saat mendaki Gunung, tanpa adanya cahaya ku sujudkan tubuh ini menghadap Sang Kuasa. Dingin, lelah, serta angin malam yang selalu menggoda ku untuk lupa kepadaNYA.

“Ndok, mateng Ndok, tangi” atau dalam bahasa Indonesianya “Ndok, sudah matang, bangun” seruku kepada M.Khoiril Handoko yang sepertinya sangat menikmati tidurnya walau hanya bersenderkan batang pohon itu serta ditemani lagunya Maroon5 “Payphone” yang ia mainkan berkali-kali.

2 buah mie goreng serta 1 kaleng sarden dan beberapa sayur dan juga 2 gelas kopi Good Day rasa Carabian Nut sudah tersaji diantara kita. Sebuah hidangan yang selalu menemani seorang pendaki.

Waktu menunjukkan pukul 19.30, dan waktu itu kami sudah selesai makan serta menunaikan ibadah Sholat Isya’ berjamaah.

Sebenarnya, dari pos pohon tunggal menuju puncak hanya memakan waktu 30-60 menit saja dan puncak itu seakan sudah berada di depan mata kami, tinggal beberapa langkah. Tapi, karena setelah membaca Catper yang mengatakan di puncak tidak ada tempat untuk mendirikan tenda makanya kami memutuskan untuk mendirikan di PPT.

Pukul 20.00 kami masih menikmati obrolan khas pendaki yang sangat hangat. Hanya saja, waktu itu angin bertiup sangat kencang dari segala arah. Serta tidak adanya api unggun yang bisa sedikit menghangatkan tubuh kami.

“Rokok Ndok?” kutawarkan Marlboro merah yang selalu aku bawa menamani perjalananku ke Gunung. Entah kenapa Handoko yang berbadan besar, tinggi, gagah dan dikenal banyak orang tidak merokok serta rutin berolahraga dengan entengnya mengiyakan penawaranku.

1, 2, 3 batang rokok terasa nikmat di tenggorokan kami yang mulai tak terasa karena sangat dinginnya malam itu serta angina yang bertiup sangat kencang, serta adanya kacang dan ketela bakar membuat kami sangat nyaman dan ogah meninggalkan tempat untuk mulai rehat menutup mata.

Tapi karena kondisi fisik yang mulai melemah, pukul 21.00 kami beranjak untuk menggulung kedua matras kami lalu meletakkannya ke tenda untuk alas kami gunakan tidur.

Ndoko yang pertama kali menggulung matrasnya dan aku bertugas untuk membereskan peralatan memasak.

Baru saja tubuh ini berdiri, angina Sumbing yang menurutkan sangat hebat langsung menerpa Pos Pohon Tunggal. 1 matrasku yang belum kugulung terbang menuju padang sabana yang gelap gulita tapi hanya beberapa meter.

Bukan hanya matras, tapi flysheet yang kami kira sudah terpasang dengan kuatnya ikut terbang tertiup angin. Alhamdulillah, tidak sampai menerbangkan tenda kami.

Cepat-cepat aku memberaskan peralatan masak dan menggulung matras lalu masuk ke tenda menyusul Ndoko yang sudah berjalan menuju alam tidurnya.

1 jam, 2 jam, 3 jam berlalu tapi entah kenapa mata ini sangat sulit untuk dipejamkan. Mungkin karena terlalu lelah, atau perasaan ini yang khawatir akan sewaktu-waktu badai menyerang kami dan merobohkan tenda kami.

Sleeping Bag yang kugunakan pun tak sanggup menahan dinginnya malam itu. Dan juga waktu itu, mungkin hanya perasaanku atau juga dirasakan Ndoko, aku merasa ada dua orang di luar tenda kami sedang memegang frame tenda kami dan mengobrol, seakan-akan sedang menjaga tenda kami yang memang waktu itu memang hanya kami berdua yang mendaki lewat jalur via Kaliangkrik.

Hingga akhirnya rasa kantuk ini mengalahkan rasa khawatirku, dan ditengah angin kencang yang berhembus aku menyusul Ndoko untuk terbang kea lam tidur.

Tapi itu hanya beberapa saat waktuku untuk terlelap. “Wusshh” “Wuuussh, kraakk! Kraakk!!” Aku terbangun mendengar suara keras tersebut, yang kuingat saat kejadian itu tepat pukul 03.00 pagi.

Tenda yang tadi kuingat berada jauh dari mataku sekarang sudah di depanku bahkan menempel di hidungku. “Ndok, bangun! Tendanya roboh!”. Terjadilah apa yang aku khawatirkan, tapi untunglah hanya 2 frame tenda kami yang patah.

Tapi sangatlah tidak mungkin mendirikannya lagi, serta kabut pagi sudah mulai turun yang menyebabkan semua barang berembun dan juga adanya titik-titik air yang menetes tidak cukup deras.

Senter yang kami gunakan pun hanya bisa memberikan penerangan sepanjang 5 meter saja. Langit malam yang tadinya penuh dengan bintang serta pemandangan kota di bawah yang indah dengan lampu-lampu yang khas kini telah berganti dengan kabut yang menutup semua jarak pandang dan juga menjadi tanda-tanda kecil terjadinya badai.

Tanpa adanya rasa takut serta rasa lelah yang kian menjadi kami tidur lagi dengan tenda yang roboh, ah tak apalah yang penting aku bisa menutup mata pikirku.

Hingga aku terbangun pukul 05.00 setelah mendengar suara alarm HPku yang berisik Kala ku membuka mata, kulihat liar sekeliling alam semesta, pagi ini kubakar semangat kian membara.

Hitam malam memang menang menyerang terang tetapi mekar fajar bersama mentari akan menari bersama untaian senandung salam hangat alam pagi.

Kubuka tenda robohku, hmm masih gelap tapi suara-suara adzan subuh sudah berlalu kupikir. Aku menunaikan ibadah Sholat subuh yang Ndoko masih terlelap.

Ah biarkan saja, toh mungkin dia capek. Setelah selesai, mulai kubangunkan sahabatku itu. “Ndok! Bangun, banjir! Banjir! Banjir!”. Gelagapan dia membuka matanya serta langsung panic mencari semua barang –barangnya.

“hahahaha, kagak bro, kagak mungkin banjir kok situnya aja yang ngebo kagak bisa dibangunin untuk sholat” kataku menjelaskan kepadanya.

Aku membangunkannya pukul 05.30 yang saat itu matahari ciptaanNYA mulai keluar memberikan kehidupan bagi makhlukNYA.

Indah sekali, tidak bisa kutuliskan dengan kata-kata karena dengan sinar emasnya matahari itu muncul di tengah-tengah Puncak Trianggulasinya Merbabu serta Puncak Garudanya Merapi.

Wow, sunrise yang sangat cantik menurutku. Bergegas aku mengluarkan HP ku untuk mengabadikan setiap momen itu walau masih ada sedikit kabut yang tinggal.

Ndoko yang setelah selesai sholat subuh mulai ikut denganku untuk mengabadikan momen special itu.

Hanya beberapa puuh foto yang kami ambil, karena hanya melalui hp saja kami mengambilnya sedangkan kedua battery kami sudah mulai low.

Berdua kami duduk menikmati keAgunganNYA ditemani secangkir kopi, beberapa cemilan dan tidak lupa rokok Marlboro ku yang selalu terasa nikmat setiap aku menghisapnya.

Pukul 07.00 kami sudah selesai memasak dan memakan hidangan terakhir kami, masih sama dengan kemarin malam dalam urusan menu.

Setelah perut terisi penuh, kami mulai membereskan barang-barang kami dan merapikan tenda kami yang roboh.

Total pukul 08.00 kami sudah selesai packing yang juga telah membereskan tempat itu dari sampah-sampah yang berserakan. PUNCAK BUKANLAH SEGALANYA, ya itulah yang kami pikirkan saat itu.

Mungkin waktu kami masih sempat, mungkin hanya 30 menit menuju puncak, mungkin juga tenaga kami masih kuat TAPI jalur ini terlalu indah untuk diselesaikan hanya dalam 1 kali perjalanan. Makanya kami sepakat untuk kembali lagi ke tempat ini entah kapan, tapi kami akan kembali.

Setelah berdoa dan merasa semua perlengkapan sudah tertata rapi ke dalam carrier kami, kami mulai melangkahkan langkah kami lagi menuju peradaban manusia yang kental akan masakan rumah, hmm salah satu alasan kenapa aku pulang.

Dalam posisi yang seperti kemarin aku di depan dan dia dibelakang kami mulai melangkahkan kaki kami dengan trek tanah yang agak berdebu serta licin yang hampir membuat sandal gunungku putus.

30 menit dari PPT kami menemui pertigaan yang tetap maju dan treknya lurus atau ke kiri turun. Di situ terdapat batu yang tidak terlalu besar tapi ada tulus PPT dengan arah.

Kami mengambil jalur yang kiri karena Ndoko ingat betul akan pertigaan itu. Setelah pertigaan ini terdapat pertigaan lagi yang berjarak 5 menit.

Pertigaan ini sangatlah samar serta menjebak dan sama sekali tidak ada petunjuk untuk menuju Basecamp via Kaliangkrik karena kendaraan serta dompet kami, kami tinggal di sana.

Entah kenapa kami berdua bingung bahkan lupa akan pertigaan ini. Yang kami ingat hanya pertigaan dengan ditandai batu saja yang kami lewati selama berada di padang sabana.

Ah yang penting turun mungkin itu yang berada di kedua pikiran kami yang memberanikan diri mengambil jalur yang kiri turun.

20 menit berjalan kami sempatkan diri berfoto kembali pada sebuah pohon kecil yang mirip sekali dengan PPT hanya saja pohon ini lebih kecil dan tidak serimbun yang ada di PPT.

Beberapa teguk air persediaan kami terasa nikmat saat nafas kami ngos-ngos an meniti jalan yang hampir tidak menyerupai jalur pendakian.

Hingga kami sampi pada hutan kecil yang dahan-dahannya sampai menutupi kepala kami, saat itu juga aku berpikir kami salah jalan.

Firasatku benar, ternyata jalur ini akan hilang di menuju semak-semak dan tidak ada pertigaan lagi. Sudah 60 menit kami berjalan dari pertigaan menjebak itu.

“Ndok, kayaknya nyasar deh” “iya bro, yuk balik lagi ke atas”. Awalnya kami tidak panic tapi entah kaki ini membawa ke sebuah padang saban yang sangat berbeda dengan padang sabana yang seharusnya kami lewati.

Bahkan tidak ada pun jejak manusia dan juga tidak adanya jalur pendakian. Ya Allah apakah mungkin kami tersesat?

Panik, bingung, takut, perasaan seperti itu bercampur harmonis dan yang pada pikiran kami. “Ndok, kompas!” seruku pada Ndoko yang kutahu selalu membawa kompas. “aku nggak bawa, ketinggalan” katanya ngos-ngosan.

Oh tidak, kami memang tersesat di padang sabana antah berantah dengan logistic yang sudah menipis.

Kurasa kami telah berada di sebelah timur laut setelah melihat posisi matahari. “Break!” kataku.

Kami letakkan carrier kami dan rebahan di tanah yang kami pijak. Keringat bercucuran di sekujur tubuh kami, bahkan jaket tipis yang kugunakan ikut basah terkena kucuran keringatku.

“Tenang kawan, kita pasti bisa melewatinya, bersama” Kataku menenangkan Ndoko yang hampir putus asa mengetahui bahwa kami memang tersesat.

“kita hanya perlu tenang, fokus dan semangat untuk melewati ini, kita hanya perlu berjalan kearah barat dan semoga menemukan jalur yang benar, tenang kawan” kataku menambahkan.

Dia hanya terdiam takut tak menjawabku. Aku harus pulang, orang tuaku menugguku cemas di rumah, teman-temanku menungguku untuk bercanda bersama lagi.

Itulah motivasiku untuk mencari jalan pulang. “Ndok, kamu disini saja biar aku yang mencari jalan, setelah ketemu akan kupanggil dirimu atau kembali menjemputmu” kataku karena kutahu Ndoko terlihat sangat kelelahan memikul carrier 60L nya.

Waktu menunjukan jam 10.00 dan kuberanikan diri dengan hanya berbekal air 600ml kujelajahi padang sabana itu sendiri.

Mungkin karena fisik ku yang masih kuat untuk mencari jalan. Awalnya aku berjalan ke atas menuju puncak berharap untuk menemui pendaki lain atau samapi ke PPT lagi, terus keatas tapi yang kudapat hanyalah ujung bukit yang puncaknya masih jauh di atas sana dan PPT pun aku tidak melihatnya.

30 menit aku berjalan dan buang-buang tenaga saja pikirku. Akhirnya kuputuskan untuk menuju kearah barat. Memotong perbukitan, menyibakkan rumput yang tingginya hampir sedada dan masih saja nihil yang kudapatkan.

Harus kuakui, setelah berjalan hampir 1 jam aku mulai menyerah dan putus asa.

Kuambrukkan diriku di atas rumput itu. Kutenangkan sejenak pikiranku, kukumpulkan lagi tenagaku.

“Ragil, besok-besok aku diajak ya buat naik gunung, kemana aja deh gapapa asal sama kamu” terbesit kata-kata tersebut dari seseorang di bawah sana yang kurasa sudah tak sabar menunggu sms ataupun telfon dari ku.

Seorang yang berarti untuk ku menungguku. Entah kenapa itu menjadi motivasiku lagi, meledak semangatku kali ini, fisik yang mulai melemah tidak kuhiraukan lagi.

“Aku harus pulang, aku masih punya dosa yang harus kutebus kepadaMU, aku punya Ibu yang harus kubanggakan”.

“Allahu Akbar” teriak ku yang kutandai dengan langkah ku pertama kali menuju barat. 10 menit aku telah berjalan lagi dan “seett, bukk bukk!”.

Entah kenapa tubuhku jatuh tersungkur hingga berguling yang kurasa ada yang menarikku. Celana pendek yang kupakai sedikit sobek, dan ada bercak merah di sekitar lutut.

Saat itu lututku luka dan mengeluarkan darah yang agak banyak. Tapi lagi-lagi tidak kupedulikan itu dan terus saja melangkah.

Alhamdulillah, segala puji bagiMU Ya Allah. Seteleh kurang lebih 3 jam kami tersesat akhirnya kutemui lagi pertigaan yang ditandai dengan batu bertuliskan PPT.

Segera kutinggalkan carrierku dan turun menuju Ndoko di kejauhan. Setelah kurasa suara teriakanku bisa didengarnya aku berteriak “Ndok,sudah ketemu lewat sini!!!” Dan dengan semangatnya Ndoko bangkit menuju kearahku dengan setengah berlari.

Butuh sekitar 20 menit Ndoko untuk sampai kearahku karena arah yang dia ambil langsung memotong beda dengan yang kulakukan. Waktu yang singkat itu kugunakan untuk beristirahat dengan menyalakan lagi rokok Marlboro ku.

“sekarang kemana Gil?” katanya saat sampai di tempatku. “tuh diatas, 20 menit dari sini pertigaan batu PPT” kataku.

“siip, eh kenapa lutumu?” tanyannya “udah gak papa Cuma licet doing, yukk pulang” kataku agar dirinya tidak khawatir.

Kami sampai ke pertigaan batu bertuliskan PPT pukul 12.00. Tanpa basa basi kami langsung turun ke kiri lalu sampai lagi ke pertigaan yang menjebakkan itu.

Eiiitss tidak lagi bung, kami ambil kanan dan ternyata memang benar itu jalur yang benar.

20 menit dari pertigaan itu sampailah kami di Watu Tulis. Tidak sempat lagi kami bercanda, hanya bersyukur yang kami panjatkan karena masih diberi kesempatan pulang.

Waktu itu hujan rintik mulai turun, ah beruntungnya kami sudah keluar dari padang sabana itu karena jika badai terjadi akan sangat sulit mencari tempat berlindung di padang sabana yang juga dalam posisi tersesat.

12.45 kami mulai meluncur turun yang di Watu Tulis kami hanya mengisi 1 botol 1.5L saja karena perjalanan turun tidak semelelahkan perjalanan naik.

Kami tidak mengeluarkan poncho kami karena hujan yang relatif gerimis dan intensitasnya pun tidak sederas badai hanya saja jarak pandang hanya sampai 20m.

Perjalanan turun dari Watu tulis sangat nyaman, dengan melawati beberapa kali dan juga trek yang tidak terlalu curam membuat kami sempatkan untuk bercanda walau hanya beberapa saat dan agar tidak membosankan kumainkan musik lewat hp ku yang masih bisa terdengar oleh kami berdua.

Kali ini Ndoko yang di depan dan menentukan tempo, 20 menit dari Watu Tulis kami sampai pada pos 3 atau kali ke 6. Kami lewati saja, dan kali ke5 hingga ke1 kami juga melewatinya.

13.30, sampailah kami pada pos 1 kami juga lewati saj pos 1.

Oh ya, di antara kali ke 2 dan ke 3 kami sempat melihat Ayam Hutan dan juga ada beberapa sesajen khas jawa. Mungkin itu dari warga sekitar untuk leluhur Gunung Sumbing.

“Met nggeh mbah” kata kami saat melewati sesajen itu. Kami pun tidak terlalu memikirkannya karena dari awal niat kami baik, yaitu untuk mengenali alamNYA yang sangat indah dan juga agar menjadi pembelajaran bagi kami untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa.

Pos 1 merupakan perbatasan hutan. Dan trek hutan pun sangat menyakitkan menurutku. Jalan yang berundak dan tertata rapi tapi dengan rentang antar undak yang relatif jauh. Dan jalan seperti itu merupakan salah satu kendala bagi pendaki yang menyebabkan kaki kejang, tremor bahkan kram.

Jalur hutan kami lewati hanya 30 menit. Tempo yang agak lambat, tapi itu sudah kekuatan terakhir kami. Jadi mau tidak mau harus pelan atau turun dengan kaki mundur yang sedikit meringatkan kaki kami.

Jalur berundak juga membuat beban yang kami pikul seperti menjadi 2x, mungkin karena goncangan tubuh kami saat menuruni tangga berundak itu.

Setelah jalur hutan merupakan jalur yang sangat menyakitkan pada jalur via Kaliangkrik. Memang sama dengan trek di hutan tapi dengan jarak yang hampir 3xnya membuat pikiran kami agak down.

Tapi, ah sebentar lagi sampai kok. Di hutan kami masih menemui beberapa warga yang sedang mencari kayu bakar karena cuaca saat kami sampai di hutan sudah cerah dan tidak ada kabut lagi bahkan sinar matahari masuk melewati sela-sela daun dengan teriknya.

Jalur berundak yang kanan kiri nya ladang penduduk kami lewati selama kurang lebih 1,5 jam itu pun dengan kondisi yang sangat lelah dan kaki yang sering kali kram.

Membosankan memang, tapi untuk mengusir kebosanan cobalah menghitung tangga berundak itu dari perbatasan hutan hingga basecamp hehehe kurang kerjaan amat.

Tapi dengan konyolnya aku pun menghitungnya yang kurasa kurang lebih ada 1000 anak tangga dari basecamp hingga perbatasan hutan. Ah agak lupa sih, jika kalian lewat jalur ini dan menghitungnya besok aku diberitahu ya, hehehe.

Pukul 15.30 kami sampai juga di basecamp yang juga rumah pak Kadus. Tanpa basa-basi kami lalu membersihkan diri lalu sholat Ashar.

Setelah sholat kami disuguhkan teh hangat oleh ibu Kadus. Cukup melepas penat pikirku, memang dari pagi pukul 08.00 kami belum makan.

Entah kenapa segelas teh itu cukup untuk mengganjal perut kosong kami. Oh ya, registrasi untuk memulai pendakian hanya sebesar Rp 5.000,00 untuk 1 orang dan sudah mendapat sticker dan beberapa cemilan yang disediakan oleh Bapak/ibu Kadus semuanya gratissss.

Hahaha, bahkan kami sempat menghabiskan 1 toples penuh cemilan keripik singkong.

Dan untuk kendaraan tidak dikenai biaya parker karena kendaraan di titipkan pada rumah Pak Kadus.

Pukul 16.15 kami berpamitan pulang karena fisik yang sudah 5% dan juga hampir petang. Sungguh petualangan yang sangat mengayikan dan seperti janji kami, kami akan ke puncak itu dengan jalur ini lagi dan terbukti pada 19-20 April lalu kami sampai juga di Puncak Gunung Sumbing tapi dengan personil yang lebih banyak dan Alhamdulillah tidak adanya kata tersesat lagi.

Masih ingat kisah hebat Arif Wicaksono yang tersesat di gunung Sumbing selama hampir 5 hari dan sendirian dan lewat jalur sama yang kami lewati?

Sungguh aku bersyukur teman kita Arif ditemukan selamat karena tersesat di gunung bukan hal yang menyenangkan.

Kita harus bisa survival dan juga harus bisa mengatasi rasa takut, panik,bingung serta harus bisa memanage apa saja yang berada dalam carrier kita.

Aku tidak bisa membayangkan jika aku yang berada di posisinya. Semoga saja tidak ada lagi kalimat “Pendaki Gunung kok tersesat di Gunung” semoga tidak ada lagi pendaki yang tersesat.

Memang indah, tanah yang menjulang tinggi dan kita berada di puncaknya menikmati suguhan lukisan tangan Tuhan.

Tapi, kita juga harus tahu apa yang akan kita hadapi. Rasa dingin, lapar, lelah, panic, takut serta yang lainnya harus bisa kita atasi.

Tapi semua itu akan terbayar lunas saat dengan mata kita sendiri melihat keAgunganNYA dan kita sadar betapa kecilnya kita ini. Mendaki alam yang menjulang tinggi bukan hanya keinginan hati. THINK BIG… Salam Lestari

(sumber : Ragil Kukuh Krishna Putra)

No comments:

Post a Comment