Saturday, 6 August 2016

Belut Appu, Air Terjun dan Danau Laputi Sumba Timur

Danau laputi dengan air biru yang jernih
Danau laputi dengan air biru yang jernih

Ketika Umbu Meha Nguru pergi berburu bersama kerabat dan beberapa teman, mereka mendapatkan hasil buruannya. Mereka menikmati dengan memanggang buruannya. Setelah selesai makan, ternyata tidak ada air untuk minum.

Dengan spontan, Umbu memukul dinding tebing dengan tongkat yang sering digunakannya, ketika itupun air mengalir dan lama kelamaan air semakin besar. Mereka menikmati air minum dengan senang sekali. Air itu mengalir ke bawah dan terbentuklah sebuah genangan dan pada akhirnya membentuk danau, disebut Danau Laputi.

Tahun berganti tahun, terjadi peperangan antar suku dalam memperluas wilayah kepemilikan, para perempuan bersembunyi di danau tersebut. saking takutnya, mereka memohon dan menjelma menjadi Moa atau sejenis belut besar yang hidup di danau laputi.

Demikian cerita rakyat tentang kejadian tersebut. Sampai sekarang ini, jika kita pergi ke danau laputi, pertama kita menyapa Moa atau belut besar di danau itu, dengan sapaan "Appu" dan percaya atau tidak, jika kita menangkap dan memakan Moa atau belut besar itu, akan membawa kematian. 

Danau Laputi dari Sudut lain
Danau Laputi dari Sudut lain

Danau laputi merupakan salah satu wisata yang tak kalah menarik dengan wisata lainnya di Sumba Timur

Danau Laputi
Danau Laputi

Salah satu sudut danau Laputi... begitu bersih, teduh dan indah; Rumah yang nyaman untuk manusia, belut, ikan, capung, burung dan biota hidup lainnya.

Belut penghuni danau Laputi
Belut penghuni danau Laputi yang dipercayai masy. sekitar sbg nenek moyang mereka

Belut dengan ukuran mencapai 1 meter lebih ini terdapat di danau Laputi, Desa Praingkareha, Kecamatan Tabundung, masuk kawasan Taman Nasional Laiwangi, Wanggameti; Jarak sekitar 115 Km dari Waingapu ibukota Sumba Timur.

Papan Danau Laputi sengaja tulisan
Papan Danau Laputi sengaja tulisan dibuat terbalik biar bisa dibaca dipantulan air

Papan DANAU LAPUTI saat air jernih
Papan DANAU LAPUTI saat air jernih

Lebih dari 5 individu belut hidup nyaman di danau tersebut. Kecantikan danau Laputi sendiri sampai sekarang masih bersifat mistis dan sakral;

Konon ada legenda yang menceritakan bahwa di danau tersebut di huni belut sakti yang dikramatkan oleh masyarakat setempat. Penduduk setempat menyebutnya dengan "Apu" (yang artinnya nenek) di yakini oleh masyarakat sekitar danau sebagai nenek moyang mereka;

Ada sebuah pamali yang sudah turun temurun diajarkan di sana untuk tidak memancing dan memakan belut tersebut. Pasalnya, apabila belut tersebut dipancing dan dimakan, maka orang yang memakan tersebut akan meninggal dunia.

Keadaan Apu di danau ini konon di lepaskan untuk menjaga air agar tetap tetjaga dan terpelihara dengan baik. Dengan kondisi airnya yang cukup jernih warna biru kebiruan suasana alamnya yang sejuk serta bunyi kicauan burung-burung membuat hati seseorang seakan terasa tentram tanpa dilema.
Walaupun masih terkesan mistis dan sakral, para pengunjung tetap datang setiap harinya. Bahkan apabila mengunjungi, memberi makan dan tidak mengganggu belut tersebut juga tidak melakukan aktifitas yang dilarang di sana maka akan datang pahala dalam hidupnya.

*)membayangkan apabila danau-danau yang ada di Jawa atau dimanapun ada, memiliki kearifan seperti di danau Laputi... tentu akan jadi lingkungan perairan yang sehat dan indah.

Belut danau laputi praingkareha
Belut danau laputi praingkareha

Apu : Masyarakat umumnya di sumba menyebut belut tapi menurut saya adalah sidat. Tapi sistem perkembangan sidat mewajibkan air tawar (sungai/danau) terkoneksi langsung dengan laut. Sedangkan Lokasi Danau Laputi sangat jauh aliran untuk menuju ke laut. di bawah danau masih terdapat beberapa air terjun tinggi. Kemungkinan ini adalah jenis sidat yang sudah beradaptasi.

Pepohonan di Danau Laputi
Pepohonan di Danau Laputi

Di Gunungkidul (Jogja), kearifan lokal seperti itu ada. paling tidak itu saya dengar di Tahun 1980-an. Sidat atau orang Gunungkidul menyebutnya gateng atau pelus dilindungi dengan hal seperti itu "apabila belut tersebut dipancing dan dimakan, maka orang yang memakan tersebut akan meninggal dunia".

Bahkan, kalau ketahuan mencuri-memancing maka orang itu akan dikenai sanksi sosial. Namun demikian, setelah masuknya pemikiran "modern" yang mendorong orang berpikir rasional maka hal itu mulai lemah pengaruhnya.

Rasional itu tidak ditempatkan pada mengapa "himbauan" itu ada; rasional tidak bergerak mengupas makna di balik pengetahuan lokal itu. Rasional bergerak pada tataran tersurat "kalau dimakan, maka akan ada orang yang meninggal" sebatas itu saja.

Rasional tidak sampai pada membaca makna yang tersirat bahwa sidat/pelus/gateng itu adalah ikan yang berfungsi sebagai pembersih lumpur/kotoran penghalang dari mata air yang ada di sungai/danau itu.

Dengan demikian bila ikan itu dimakan, hal itu akan membunuh mata air yang ada di situ, lebih jauh akan membuat orang meninggal karena mengalami krisis air.

Satu lagi wisata yang menarik yaitu Air terjun Laputi dengan ketinggian berkisar 20-30 m. Jika memang teman-teman mempunyai ketertarikan untuk berkunjung di lokasi tersebut sesegera mungkinlah anda menyempatkan diri, kedatangan Anda kami nantikan... Semoga berita ini dapat bermanfaat ya..!!!

Air Terjun Laputi Sumba Timur
Air Terjun Laputi Sumba Timur

Air Terjun Laputi
Air Terjun Laputi

Air Terjun Laputi
Air Terjun Laputi dari Sudut Lain

No comments:

Post a Comment