Friday, 21 October 2016

Catatan Perjalanan Pesawat, transportasi ke Kamerun, Afrika

Pesawat Air France

Ini catatan perjalanan saya, terutama untuk diri saya sendiri. Tapi kalau mau baca, silahkan. Saya biasanya menulis dengan cara singkat. Catatan ini saya tulis dengan style diary, lebih panjang dan mendetil. Barangkali saya tulis dalam 10 serial atau lebih. Kali aja nanti anak cucu baca....

Tujuan saya ke kamerun, liburan. Nafa gak ke London, Helsinki, Roma?...saya pengen mengunjungi negri-negri belum maju. Negri yang infrastrukturnya parah, penduduknya banyak yang miskin, negrinya
kumuh, lalu lintasnya tidak teratur, orang-orang yang mondar mandir di jalan, pasar-pasar tradisionalnya, hutannya,  gunungnya, sungainya, makanannya, warungnya, tokonya, rumah sakitnya, pasiennya, dsb.

Berangkat dari bandara CDG Paris, tujuan bandara Douala kamerun. Bandara paris luas, seluas kota Padang...Tiket pesawat tinggal dibeli via internet. Untuk dokumen check in, kita dikirimkan e-mail, HP, tinggal di print di rumah. Kalau tidak sempat, di bandara tersedia mesin printer. Cara ini mempercepat proses check in. Selain itu, di internet tersedia formulir dengan pertanyaan nama, alamat, no. telepon, no paspor dsb. Ini formulir atas permintaan pemerintah kamerun. Walau pertanyaan yang sama sudah diajukan saat permohonan visa. Kini kontrol makin ketat.

Saat antri untuk boarding, saya ngobrol dengan seorang laki-laki jerman. Dia tidak keliatan seperti turis yang mau ke afrika. Ternyata, dia sudah 30 tahun tinggal di berbagai wilayah afrika. Dia ahli teknik untuk pembuatan/maintenance instalasi pabrik pembuatan bir yang dia bikin di berbagai wilayah afrika. Selain di afrika, dia juga tinggal dan bekerja di amerika selatan. Wah, menarik ngobrol dengannya.

Sebelum boarding, satu persatu penumpang harus masuk ke kabin. Kedua tangan diangkat, lalu kamera/semacam ronsen memotret tubuh. So, kalau ada bawa bom, keliatan. Kecuali bom cinta. Sebelum kekabin, semua barang dilepas: dompet, jaket, ikat pinggang, sepatu, topi.

Pesawat Air France memuat ratusan penumpang. Saya dikelas ekonomi. Sebelum tiba di tempat duduk, melewati kelas bisnis dulu. Wow, luxus. Ada komputer, layar TV elektronik, tempat duduk lapang, ada meja, pokoknya kayak di ruang kantor bos gitu.

Saya melongo. Ternyata, 95% penumpangnya orang afrika. Baru kali ini saya mengalami. Mereka kebanyakan orang afrika yang tinggal di perancis. Tetapi ada juga yang dari negri lain seperti kanada. Mereka banyak bawa tas bawaan. Oleh-oleh buat keluarga. Walau peraturannya cuma boleh bawa satu tas/ransel dan satu tas tangan. Yang terlihat, mereka bawa koper2 kecil yang melampaui ukuran standar. Kesan saya, Air France mentolerir hal ini agar orang tidak lari ke penerbangan saingan. Duduk di pesawat yang belum terbang selama 1,5 jam. Di pengumuman disebutkan bahwa penerbangan ditunda karena masalah cargo. Bah.

Masing-masing tempat duduk, di depannya terdapat layar elektronik 15x20 cm. Bisa nonton program budaya, musik, olahraga, perjalanan, dsb. Atau bisa melihat posisi pesawat sedang diwilayah mana, berapa kecepatan pesawat, berapa suhu di udara dan suhu di wilayah tujuan, berapa lama lagi sampai. Program dalam bahasa inggris, perancis, jerman. Peragaan untuk hal darurat melalui monitor, ditampilkan dengan gaya kreatif, oleh para model.

Selama 6 jam penerbangan, kita disuguhi air mineral, bir, anggur, jus, teh, kopi. Waktu pesan tiket di internet, saya sudah pesan makanan vegetarian. Ketika saat makan tiba, pesanan saya datang duluan. Setelah selesai makan, orang-orang disamping saya baru dapat giliran makan.

Dikiri kanan saya duduk pria perancis. Mereka tinggal dan bekerja di kamerun. Selebihnya, orang afrika. Mengesankan. Orang afrika di pesawat ini cara berpakaiannya lain. Elegan, berjas, perempuannya berdandan modish dan seksi seksi. Mereka self-confident. Kebanyakan berbahasa perancis. Saya satu-satunya orang asia.

Selama penerbangan, saya baca buku, nonton program atau ngobrol dengan stewardess (pramu udara? lupak bahasa indonesianya, lagi males buka kamus). Stewardess ini orangnya lucu, barangkali dia gay, gerakan tangannya itu lho.

Bandara internasional Douala kecil, sederhana. Kita harus melalui melalui pemeriksaan beberapa kali oleh polisi dan douane. Tapi petugasnya ramah. Petugas perempuan style rambutnya wow. Pemeriksaan paspor, ID cart, sertifikat vaksinasi internasional yang mencantumkan vaksinasi demam kuning. Setelah itu barulah bisa keluar. Diluar sudah menunggu para tukang angkut barang.

Tiba di Douala jam 7 sore. Sudah gelap. Udara Douala panas, seperti kalau keluar dari bandara cengkareng. Bau udaranya lain, gak bisa saya deskripsikan. Dilangit, bintang-bintang nampak buram, ketutup debu. Teman kami, seorang dokter jerman dan sopirnya menjemput di bandara. Untuk keluar dari tempat parkir mobil, butuh waktu satu jam. Selanjutnya mobil melaju ke kota Limbe, 75 km dari Douala, makan waktu dua jam. Jalan berdebu, banyak lobang. Mobil, ojek memadati jalan. Jarang terdapat lampu penerang jalan, kecuali masih dipusat kota. Sepanjang perjalanan, dikiri kana jalan banya terdapat warung, pedagang kaki lima dan bar. Orang duduk minum bir dan musik keras terdengar.

di tepi jalan Kamerun

Sepanjang jalan, saya tak henti-hentinya melongok, melihat pemandangan kehidupan malam ditepi jalan. Saya merasa sedang berada di dunia lain. Mobil-mobil taksi, bis, melaju dengan lampu jauh. Mata saya sering silau. Tapi Hans, sang sopir sudah biasa. Dia sudah hafal lobang-lobang di jalan. Jadi mobil berjalan zig zag menghindari lobang. Klakson mobil tiap sebentar berbunyi. Hans adalah nama jerman. Di kamerun, orang punya nama inggris, perancis dan jerman. Dulu kamerun dijajah inggris, jerman dan kemudian perancis. Tiba-tiba saya teriak kaget. Di tepi jalan ada bar, namanya Jakarta...

bar Jakarta

Diluar kota Douala, mobil di stop tentara. Mereka minta kami memperlihatkan paspor bagi yang bukan orang afrika, KTP dari Hans. Karena tau kami turis, paspor saja tidak cukup. Mereka minta kami untuk memperlihatkan sertifikat vaksinasi. Haha, seumur hidup baru kali ini saya dapat pengalaman seperti ini; pemeriksaan paspor plus sertifikat vaksinasi oleh tentara di jalanan.

Tiba di Limbe, badan dekil, keringatan. Target utama, mandi. Setalah itu kami makan malam, ngobrol sambil minum anggur merah sampai larut malam, lalu menuju tempat peraduan.

Saya memilih tidur dilantai marmer karena lebih sejuk ketimbang tidur di sofa empuk. Saya tidak mau ruangan dipasang AC, bisa langsung pilek. Tidur di ubin mengingatkan masa kecil saya dulu dikampung. Diterik siang, telentang di ubin yang sejuk bisa mengantar tidur. Sebelum tidur, saya semprot badan dengan spray anti nyamuk. Maklum, kamerun punya malaria. Sebelum tidur, saya sudah tidak sabar untuk melihat kayak apa esok harinya kamerun. Ada apa di depan, samping dan belakang rumah, gimana kotanya, orang-orangnya.

Perasaan, belum lama saya tertidur, ayam jantan pada berkokok. Diluar masih gelap. Saya tidak bisa tidur lagi. Sebentar kemudian, terdengar gerakan kehidupan. Dikejauhan terdengar bunyi mobil, sepeda motor di depan rumah terdengar bunyi gerit pintu, kelontang kaleng, bunyi piring, orang-orang yang jalan kaki, kicauan burung dan juga bunyi kroek kroek suara babi. Bersambung..

Sumber : Wes Wesman

No comments:

Post a Comment